Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Beras Mahal di Kediri, Petani Untung Pengusaha Jadi Buntung

Ayu Ismawati • Senin, 4 Maret 2024 | 18:01 WIB
Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri - Kenaikan harga beras yang terjadi sejak awal Februari lalu membuat petani yang panen lebih awal diuntungkan. Jika biasanya mereka selalu merugi, para petani bisa mendapat cuan hingga jutaan rupiah dalam sekali panen.

Seperti diungkapkan oleh Mardiono, 58. Petani asal Papar itu mengaku bisa meraup untung Rp 9 juta untuk setiap 250 ru tanaman padinya. “Jika dihitung, setiap 250 ru itu biaya produksi Rp 6 juta. Kemarin panen di tengkulak laku Rp 15 juta,” terang pria yang memiliki tanaman padi seluas empat hektare tersebut.

Jika petani diuntungkan, para pengusaha beras sebaliknya. Mereka merugi karena stok gabah terbatas dan mahal. Sehingga, target produksi harian tidak bisa terpenuhi.

Seperti diungkapkan oleh Direktur CV Sumber Pangan Jimmy Stephanus. Menurut produsen beras Lahap itu, perusahaannya sudah merugi sejak akhir Desember 2023 lalu. “Produksi kami menurun. Harga gabah yang dibeli dari petani naik dan kami harus membayar biaya produksi seperti listrik dan pegawai,” katanya tentang penyebab kerugian.

Lebih jauh Jimmy menyebut, puncak kelangkaan stok gabah terjadi pada 15 hari lalu atau sehari setelah pemilu. Saat itu, perusahaanya hanya mendapat stok 100 ton gabah basah. Menghasilkan 50 ton beras.

Padahal, pada hari normal mereka bisa menyerap 600 ton gabah basah. Adapun beras yang diproduksi mencapai 350 ton. “Waktu itu pasar sudah tidak kuat memenuhi kebutuhan masyarakat” terang pria yang harus berburu beras ke Ngawi dan Sragen itu.

Meski hingga kemarin stok gabah masih belum pulih, Jimmy mengaku bisa sedikit bernapas. Setidaknya, dia sudah memiliki stok beras untuk dua hari pascaprpoduksi. “Kalau pertengahan Februari kemarin, gabah masih hari ini langsung diproses untuk dikeluarkan (beras, Red) keesokan harinya,” jelas Jimmy.

Kerugian Jimmy semakin besar karena harga beras premium produksinya dibanderol Rp 13.900 per kilogram (kg) di supermarket. Padahal, harga beras premium di pasaran mencapai Rp 15 ribu per kilogram. “Pembeli dijatah hanya satu pak. Hitung-hitung membantu masyarakat, kami merugi tidak apa-apa,” imbuhnya.

Untuk diketahui, jika puncak kenaikan harga terjadi Februari lalu, di awal Maret ini harga mulai turun. Seperti kemarin, harga beras di Pasar Pahing yang sebelumnya berkisar Rp 15 ribu hingga Rp 16 ribu per kg, kemarin menjadi Rp 14.600 hingga Rp 16 ribu per kg. Zainul Arifin, salah satu pedagang di Pasar Pahing mengatakan, penurunan harga terjadi dari tingkat tengkulak atau pabrik.

“Sudah mulai seminggu yang lalu harganya turun sedikit-sedikit,” ujarnya memprediksi penyaluran beras murah pemerintah memengaruhi permintaan beras regular hingga harga turun. Penyebab lainnya karena ada petani yang mulai panen.

Hal senada diungkapkan oleh Ali Yasikin, pedagang beras di Pasar Setonobetek. Menurutnya kemarin harga beras kembali turun. Misalnya, beras medium dijual dengan harga Rp 15 ribu per kg. Sedangkan beras premiumnya seharga Rp 15.400 per kg. “Saya baru kulakan lagi dua jenis beras saja,” ujarnya.

Sementara itu, Bulog Kediri memastikan akan semakin bersikap tegas terhadap pedagang yang menjual beras di atas harga eceran tertinggi (HET). Yakni, Rp 10.900. Mereka yang menjual Rp 11 ribu per kg atau lebih mahal lagi, akan di-blacklist. Sebelumnya, pasokan untuk para pedagang nakal itu sudah dikurangi.

Kepala Perum Bulog Cabang Kediri Imam Mahdi mengatakan, pengurangan kuota beras SPHP kepada pedagang memang bentuk sanski. Adapun blacklist untuk pedagang nakal masih dalam proses. “Sedang kami proses. Senin besok (4/3) sudah ada beberapa yang kami blacklist,” tandasnya.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#petani #harga beras #kediri