JP Radar Kediri - Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati memberi arahan terkait kesehatan di pesantren. Dalam rapat koordinasi Tim Pembina Pesantren Sehat di ruang Joyoboyo Rabu (19/8) kemarin, orang nomor satu di Pemkot Kediri itu menegaskan agar pesantren bisa jadi ruang aman dan nyaman bagi santri untuk belajar.
Perempuan yang akrab disapa Mbak Wali itu mengatakan, Kota Kediri punya modal yang sangat besar untuk jadi salah satu pusat pendidikan agama yang unggul di Jawa Timur. Data Kementerian Agama Kota Kediri, sedikitnya ada 68 pondok pesantren di Kota Kediri.
Di puluhan lembaga itu ada puluhan ribu santri yang setiap hari belajar ilmu agama, membangun karakter, dan dipersiapkan menjadi bagian dari masa depan bangsa. "Karena itu, ketika berbicara tentang pesantren, tidak hanya berbicara tentang pendidikan agama. Namun juga berbicara tentang kesehatan, keamanan, lingkungan, perlindungan anak, kualitas sumber daya manusia, dan masa depan Kota Kediri,” kata Mbak Wali.
Karenanya, cita-cita untuk menjadikan Kota Kediri sebagai pusat pendidikan agama, harus berjalan beriringan dengan cita-cita menjadikan pesantrennya sebagai pesantren yang sehat, aman, nyaman dan ramah bagi santri. Pesantren, kata Mbak Wali, punya karakter yang berbeda dengan lingkungan pendidikan lainnya.
Santri hidup dalam lingkungan yang sangat komunal. Di satu sisi, kondisi ini jadi kekuatan karena membangun kebersamaan. Namun, di sisi lain kondisi yang sangat komunal juga membawa risiko kesehatan jika tidak dikelola dengan baik.
Mulai dari kebersihan kamar dan kamar mandi, pengelolaan sampah, sanitasi, kebersihan makanan dan air, hingga kebiasaan menjaga kebersihan diri. Santri juga perlu mendapat perhatian untuk masalah gizi, anemia pada santriwati, kesehatan reproduksi, aktivitas fisik, hingga kesehatan mental.
"Jadi konsep pesantren sehat tidak boleh berhenti pada pesantren yang bersih secara fisik. Pesantren sehat adalah pesantren yang mampu menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan fisik sekaligus kesehatan mental dan sosial para santrinya," terang alumnus Universitas Airlangga Surabaya itu.
Baca Juga: Santri Ponpes Mojo Disodomi Dua Seniornya, Ini Kronologinya!
Wali kota termuda ini menegaskan, pesantren sehat tidak akan terwujud hanya karena ada program pemerintah. Kuncinya tetap ada pada perubahan perilaku setiap individu. Karena itu, harus dibangun budaya bahwa menjaga kesehatan adalah bagian dari akhlak seorang santri.
Khusus bagi santriwati, perhatian terhadap anemia dan kesehatan reproduksi juga harus menjadi bagian dari edukasi kesehatan di pesantren. "Jadi mari kita bangun budaya pesantren yang sehat dengan santri yang alim, sehat, cerdas, bugar, berakhlak dan juga peduli terhadap kebersihan," ajaknya.
Dalam kesempatan kemarin Mbak Wali juga menegaskan tentang pentingnya kesehatan mental dan keamanan santri. Karena itu, praktik perundungan, kekerasan fisik, kekerasan verbal, kekerasan seksual maupun bentuk intimidasi lainnya tidak boleh dianggap sebagai bagian biasa dari pendidikan.
Pemerintah Kota Kediri bersama Dinas Kesehatan telah melakukan pembinaan kesehatan pesantren. Pada 2024, tercatat 40 ponpes yang sudah dibina. Sebanyak 35 di antaranya sudah punya pos kesehatan pesantren (poskestren) aktif. Ke depan, targetnya seluruh pesantren di Kota Kediri harus memiliki poskestren.
"Kami ingin kota kediri tidak hanya dikenal sebagai kota dengan banyak pondok pesantren. Tetapi juga dikenal sebagai pusat pendidikan agama yang sehat," tandas Mbak Wali. (pkp/ut)
Editor : Shinta Nurma Ababil