KEDIRI, JP Radar Kediri- Ribuan warga Kabupaten Kediri berburu pekerjaan dalam gelaran job fair di Convention Hall Simpang Lima Gumul (SLG), kemarin.
Mereka memanfaatkan momentum tersebut untuk mencari peluang kerja di tengah persaingan yang ketat.
Kegiatan ini juga menjadi salah satu upaya menekan angka pengangguran terbuka (TPT) di Kabupaten Kediri.
Untuk diketahui, tercatat TPT tahun 2025 berada di angka 4,71 persen, turun dari 5,1 persen pada 2024.
Adapun kemarin, sedikitnya ada 2000 orang yang melakukan konfirmasi untuk ikuti job fair di SLG.
Tingginya pencari kerja ini dikarenakan sulitnya cari kerja.
Hal ini seperti yang diungikapkan oleh Moh Ilham Satrio, 19, warga Kecamatan Kras.
Ia mengaku sempat bekerja di usaha cuci mobil. Namun berhenti karena fokus ujian.
Setelah lulus, ia berniat kembali bekerja di tempat lama, tetapi posisi sudah terisi. Ketika mencari lagi, dia msih belum menemukannya.
“Saya cari pekerjaan lain tapi belum dapat. Memang sekarang cari kerja itu susah, makanya ikut job fair ini,” ungkapnya.
Hal serupa disampaikan oleh Ikhsan Ainur Rofiq, 18, warga Desa Pelem, Kecamatan Pare.
Dia mengaku sengaja datang untuk mencari pekerjaan setelah lulus sekolah.
Ia menargetkan pekerjaan di sekitar tempat tinggalnya dan telah melamar sebagai pramuniaga di salah satu swalayan.
“Sekarang cari kerja itu sulit, lamaran banyak sekali saingannya,” ujarnya. Menurutnya, mencari pekerjaan sulit. apalagi bagi lulusan SMA sederajat.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Kediri Ibnu Imad menjelaskan, memang ada penurunan angka TPT.
Namun, menurutnya hal itu masih tinggi. Sehingga, job fair menjadi salah satu strategi untuk menekan angka pengangguran dengan mempertemukan pencari kerja dan perusahaan.
“Harapannya dengan kegiatan seperti ini bisa ikut menurunkan angka pengangguran,” jelasnya sembari menargetkan agar angka TPT kembali turun.
Dia menambahkan, penanganan pengangguran tidak bisa hanya dilakukan oleh satu instansi. Diperlukan sinergi lintas organisasi perangkat daerah (OPD).
Baik melalui pelatihan kerja maupun program padat karya.
Selain itu, strategi juga harus memperhatikan momentum, seperti saat kelulusan sekolah atau ketika sektor tertentu mengalami jeda aktivitas.
“Tidak bisa hanya Disnaker, harus kolaborasi. Pelatihan, padat karya, itu juga sangat membantu dalam menekan pengangguran,” imbuh Ibnu.
Selain job fair, pihaknya juga mendorong penempatan tenaga kerja melalui berbagai jalur.
Baik di dalam maupun luar negeri. Salah satunya melalui program pemagangan ke Jepang yang akan kembali dibuka.
Program tersebut menjadi alternatif bagi masyarakat untuk mendapatkan pengalaman kerja sekaligus meningkatkan kompetensi.
Dalam pelaksanaannya, job fair tidak hanya diisi rekrutmen. Tetapi juga talk show terkait peluang karir.
Pada hari kedua, peserta mendapatkan informasi tentang peluang kerja, termasuk kesempatan berkarir di luar negeri.
Dengan demikian, pencari kerja memiliki gambaran lebih luas terkait pilihan karir.
Ibnu mengakui, tantangan ketenagakerjaan tidak hanya pada pencari kerja.
Tetapi juga perusahaan yang kesulitan mendapatkan tenaga kerja sesuai kualifikasi. Tingginya perputaran tenaga kerja juga menjadi persoalan tersendiri.
Karena itu, pihaknya mulai mendorong digitalisasi layanan ketenagakerjaan agar akses informasi lowongan kerja semakin luas.
Meski tidak menargetkan angka penurunan secara spesifik, berbagai program tersebut diharapkan mampu terus menekan TPT di Kabupaten Kediri.
“Yang jelas, kami terus berupaya agar angka pengangguran bisa ditekan melalui berbagai kegiatan yang ada,” pungkasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita