KEDIRI, JP Radar Kediri–Satuan Tugas (Satgas) Pangan Kota Kediri melakukan sidak ke Pasar Setonobetek kemarin siang. Hal tersebut menindaklanjuti lonjakan sejumlah harga bahan pangan. Hasilnya, petugas mendapati harga beras premium yang melebihi harga eceran tertinggi (HET).
“Beberapa waktu yang lalu kami mendapati harga kebutuhan pokok khususnya beras dan minyak goreng di atas HET. Jadi kami bersama-sama ingin memastikan,” ujar Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Kediri M. Ridwan.
Tiba di Pasar Setonobetek pukul 10.40, satgas langsung menyasar toko sembako di bagian belakang. Di setiap toko, tim menanyakan harga beras premium seperti Koi yang diadukan masyarakat melebihi HET. Benar saja, harga beras premium yang ditetapkan pemerintah Rp 14.900, namun di pasaran kemarin mencapai Rp 17.500 per kilogram.
“Hasil pantauan kami harga beras premium masih di atas HET. Ini jadi catatan kami. Dan kami tadi (16/4) sudah bisa menelusuri. Ternyata mereka membeli bukan dari distributor melainkan dari pengecer yang harganya memang sudah mahal,” lanjut Ridwan.
Mendapati fakta harga beras yang mahal, Ridwan mengaku sudah memberikan teguran. Tim juga mewanti-wanti pedagang untuk tidak menjual kebutuhan pokok melebihi HET.
“Utamanya yang menjadi atensi pemerintah yaitu beras dan minyak goreng Minyakita. Kami wanti-wanti untuk tidak menjual diatas HET,” terangnya.
Baca Juga: Emak-emak Menjerit! Daftar Harga Bahan Pangan yang Mulai Naik Menjelang Ramadan 2026
Selain mendapati harga beras premium di atas HET, petugas juga mendapat aduan terkait pasokan stok Minyakita yang berkurang. Jika sebelumnya bisa 50 karton per minggu, kini tinggal 13 karton.
“Saat ini produsen lebih mementingkan untuk bantuan pangan. Bukan berarti mengesampingkan untuk yang dikomersilkan. Tapi memang supply (Minyakita) terkendala sedikit,” aku Pimpinan Perum Bulog Cabang Kediri Harisun.
Lebih lanjut Harisun menyebut, penyaluran Minyakita bukan hanya tugas dari Bulog. Dari 100 persen yang diperintahkan, sebanyak 70 persen di antaranya produsen. Adapun sisanya BUMN.
Harisun berharap masyarakat lebih terbuka saat ada permasalahan terkait Minyakita. Bukan hanya Bulog, melainkan produsen lain seperti Wilmar seharusnya juga bertanggung jawab dalam penyediaannya. ‘Kami sudah menyalurkan 80 ribu liter Minyakita di Pasar Setonobetek. Itu terhitung dari Januari hingga detik ini,” tandasnya.
Terpisah, Ali, salah satu pedagang sembako di Pasar Setonobetek membenarkan teguran dari petugas. “Kami menerima ditegur tapi harapannya pemerintah bisa memberi solusi. Bisa mendatangkan beras dengan harga yang lebih murah sehingga harga jual sesuai HET. Karena selama ini saya membeli ke loper harganya sudah tinggi,” dalih Ali meminta dropping Minyakita ditambah.
Dengan stok 13 karton seminggu, menurut Ali stok Minyakita langsung kosong dalam waktu lima hari. “Karena harganya murah sehingga masyarakat banyak yang beli,” jelasnya sembari menyebut harga Minyakita yang dijual sesuai HET Rp 15.700.
Editor : Andhika Attar Anindita