KABUPATEN, JP Radar Kediri–Ribuan calon jemaah haji (CJH) Kabupaten Kediri terus memantapkan persiapannya. Sebanyak 1.285 CJH menjalani manasik terakhir di Convention Hall Simpang Lima Gumul (SLG) kemarin. Termasuk di antaranya Marsiah, 104, jemaah tertua.
Nenek asal Desa Bulu, Kecamatan Semen itu sekaligus menjadi jemaah tertua di Kabupaten Kediri dan se-Indonesia. Berjalan menggunakan tongkat, mobilitas perempuan dengan usia lebih dari satu abad itu masih relatif baik.
Baca Juga: Ibadah Haji Tak Terdampak Konflik di Timur Tengah, 283 CJH Kota Kediri Dijadwalkan Berangkat Mei
“Dulu jualan jenang. Hasil jualan saya kumpulkan setelah anak-anak mentas (lulus sekolah),” aku perempuan yang menabung selama puluhan tahun demi bisa berangkat haji itu dalam bahasa Jawa.
Setelah uang terkumpul, dia memberanikan diri mendaftar haji pada 2021 lalu. Sebagai jemaah tertua, dia tidak perlu antre terlalu lama. “Alhamdulillah kesampaian (berangkat haji),” ungkap perempuan yang kemarin sempat berbincang dengan Wakil Bupati Dewi Mariya Ulfa itu.
Untuk diketahui, pelepasan ribuan CJH Kabupaten Kediri kemarin dilakukan oleh Wabup Dewi. Mewakili Bupati Hanindhito Himawan Pramana, Dewi menekankan pentingnya persiapan fisik jemaah. Sebab, aktivitas ibadah di Makkah dan Madinah bakal menguras stamina.
Baca Juga: Kurang Tiga Bulan, Calon Jemaah Haji Kota Kediri Wajib Jaga Kesehatan! Ada yang Gagal Berangkat
"Jarak jalan kaki dari pelataran masjid ke tempat salat saja bisa satu sampai dua kilometer. Belum lagi total jalan kaki saat ibadah bisa mencapai tujuh kilometer. Tolong mulai sekarang latihan mlampah (jalan kaki), baik pagi, siang, maupun malam agar fisik tidak kaget," pesannya.
Lebih jauh perempuan asal Kras itu menegaskan, CJH Kabupaten Kediri terbagi dalam empat kloter. Yakni kloter 109, 110, dan 111 yang berangkat pada 19 Mei 2026. Sedangkan kloter 112 akan menyusul pada 20 Mei 2026 bergabung dengan jemaah asal Nganjuk.
Seperti tahun lalu, Pemkab Kediri kembali membekali jemaah dengan makanan khas Kabupaten Kediri. Tiap jemaah diberi sambel pecel, sambel tumpang instan, serta payung dan saus sambal.
Baca Juga: Jemaah Haji Kota Kediri Masuk Kloter Akhir di Musim Haji 2026, Ini Jadwal Keberangkatannya
"Mas Bup (Bupati Dhito, Red) ingin jemaah tetap bisa merasakan cita rasa Kediri. Karena kalau di sana pasti kangen, rasa masakan di sana tentu beda dengan soto atau sambal di sini," terang Dewi.
Selain bekal makanan, pemkab juga memberi dukungan akomodasi berupa penggratisan biaya koper untuk pemberangkatan dan pemulangan. Selain itu, ada enam orang pendamping jemaah yang biayanya sepenuhnya ditanggung oleh pemkab dari APBD.
Kepala Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Kediri Abdul Kholiq Nawawi menjelaskan, jemaah tertua disandang oleh Marsiah. “Dia sekaligus juga jemaah haji tertua se-Indonesia,” tuturnya.
Lebih jauh Kholiq menegaskan, jemaah kloter 110, 111, dan 112 akan masuk dalam program tanazul. "Setelah dari Muzdalifah ke Mina, jemaah bisa langsung kembali ke hotel masing-masing yang lokasinya lebih dekat dengan tempat lempar jumrah dibandingkan jika harus ke tenda," papar Kholiq.
Baca Juga: Bandara Dhoho Jadi Embarkasi Haji Tahun 2027, Menteri Haji: Secara Teknis Kondisinya Bagus dan Layak
Menanggapi situasi keamanan internasional di Timur Tengah, Kholiq meminta jemaah untuk tetap tenang. “Persiapan tetap sesuai schedule dari Kemenag. Kita berdoa mudah-mudahan tidak ada kendala karena semua sudah ready dan jemaah sudah menggebu-gebu untuk berangkat," tandasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita