Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Pemdes Bogem Gurah Kediri Bangun Museum untuk Simpan Penemuan Purbakala

Diana Yunita Sari • Selasa, 31 Maret 2026 | 00:04 WIB
Kepala Desa Bogem menunjukkan koleksi benda purbakala di museum desa (Diana Yunita/JPRK)
Kepala Desa Bogem menunjukkan koleksi benda purbakala di museum desa (Diana Yunita/JPRK)

 JP Radar Kediri - Bogem merupakan salah satu desa yang kaya akan peninggalan sejarah. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya penemuan benda purbakala. Mulai dari arca, situs, hingga artefak lainnya di wilayah tersebut.

 

Sebagian besar benda bersejarah itu ditemukan secara tidak sengaja oleh warga. Mayoritas temuan muncul dari area persawahan saat warga tengah melakukan pengolahan lahan.

“Jika ada temuan baik di rumah atau di sawah, warga langsung menyampaikannya ke pemdes. Baru di sini kami verifikasi, apakah benar benda dari zaman dulu atau benda baru,” ungkap Kepala Desa Bogem Moh. Samsodin.

 

Baca Juga: Pemdes Blimbing Gurah Kediri Gandeng Remaja lewat Voli dan Mengaji

 

Guna menjaga keamanan dan kelestarian temuan-temuan tersebut, Pemdes Bogem mendirikan museum kecil di area kantor desa. Langkah ini diambil agar benda purbakala tidak hilang atau rusak dimakan usia. Hingga saat ini, koleksi museum desa telah mencapai lebih dari 17 benda. Terdiri dari arca utuh, lesung, yoni, lingga, arca gerabah, dan jenis lainnya.

 

“Di museum tersebut kami sertakan penjelasan di setiap koleksinya agar bisa menjadi bahan edukasi bagi warga Bogem,” lanjut Samsodin.

Baca Juga: Pemdes Wonojoyo Gurah Bangun GOR untuk Olahraga dan Hajatan

 

Dia menjelaskan, warga setempat memiliki kisah asal-usul desa yang dipercaya turun-temurun. Legenda tersebut berkisah tentang pertunangan Putri Kelanjan dan Joko Kanjoran. Karena banyak pemuda lain yang ingin mempersunting sang putri, diadakanlah sayembara agar adil.

 

Para pemuda diminta membawa seserahan berupa emas yang dibawa menggunakan kukusan atau wadah nasi berlubang. Dalam perjalanannya, emas tersebut berceceran hingga banyak ditemukan serpihan emas di wilayah tersebut. Daerah itu pun akhirnya dinamakan Bogem, yang diambil dari nama kukusan tersebut.

 

Baca Juga: Pemdes Wonosari Pagu All-Out Tingkatkan Layanan Kesehatan Desa

 

“Saya dengar warga juga sering menemukan emas dalam bentuk serpihan. Namun, kebanyakan sudah dijual sebelum sempat saya beli untuk dijadikan koleksi museum desa,” jelasnya.

 

Kini, museum tersebut tidak hanya menjadi tempat penyimpanan. Tetapi juga destinasi edukasi yang sering dikunjungi siswa sekolah, komunitas pecinta sejarah, hingga arkeolog. Penemuan terbaru yang masuk ke daftar koleksi adalah artefak gerabah. Secara rutin setiap tahun, dinas terkait juga melakukan pendataan terhadap jumlah koleksi di museum tersebut.

 

“Banyak yang penasaran. Kami melakukan promosi lewat media sosial, dan sejauh ini rutin ada kunjungan dari komunitas anak sekolah hingga arkeolog,” terang Samsodin.

Baca Juga: Upaya Pemdes Kranggan Gurah Kediri Tingkatkan Keamanan dari Jaga Malam hingga Pasang Puluhan CCTV

Museum ini sendiri mulai dibangun pada tahun 2014. Awalnya, temuan-temuan purbakala tersebut tidak terawat dan hanya diletakkan begitu saja di kawasan kantor desa. Pemdes kemudian berinisiatif membuat tempat penyimpanan. Meskipun dengan kondisi ala kadarnya.

Menariknya, di lokasi tersebut juga pernah ditemukan artefak yang kini menjadi koleksi Museum Nasional. Yakni arca kuda. Selain itu, terdapat pula peninggalan unik berupa kuitansi dari tembaga yang berasal dari zaman Raja Brawijaya.

Editor : Andhika Attar Anindita
#peninggalan purbakala #museum desa #kabupaten kediri #kediri #peninggalan sejarah #Desa Bogem #kecamatan gurah