Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Gen Z Kediri Ramai-ramai Tunda Nikah, Ini Alasan Utamanya

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Sabtu, 31 Januari 2026 | 02:00 WIB

 


Tunggu Sidang: Sejumlah warga antri di ruang tunggu pengadilan agama kabupaten kediri. Berbanding terbalik dengan kasus perceraian yang meningkat, jumlah pernikahan justru turun. (Foto: Asad. MS)
Tunggu Sidang: Sejumlah warga antri di ruang tunggu pengadilan agama kabupaten kediri. Berbanding terbalik dengan kasus perceraian yang meningkat, jumlah pernikahan justru turun. (Foto: Asad. MS)

KEDIRI, JP Radar Kediri-Generasi Z (Gen-Z) agaknya memilih menunda pernikahan mereka mengikuti tren di luar negeri.

Hal tersebut terlihat dari angka pernikahan di Kabupaten Kediri yang dari tahun ke tahun terus menurun.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur menunjukkan, tren penurunan pernikahan terjadi sejak 2023 lalu.

Pada tahun 2022, di Bumi Panjalu ada 12.407 pernikahan. Kemudian pada 2023 menjadi 11.628 atau turun 779 pernikahan.

Baca Juga: Tren Gugatan Cerai ASN Perempuan di Kediri: Masalah Pertengkaran Ungguli Faktor Ekonomi

Selanjutnya, pada 2024 lalu kembali turun menjadi 10.928 atau kembali turun sebanyak 700 pernikahan.

Memang benar dari tahun ke tahun angka pernikahan alami penurunan,” jelas Kepala BPS Kabupaten Kediri Bambang Indarto melalui Ketua Tim Sosial Tri Cahya Widodo.

Lebih jauh Cahya mengatakan, BPS memang tidak memetakan penyebab penurunan pernikahan ini. Namun, menurutnya, secara umum, angka pernikahan yang terus menurun itu karena faktor pemikiran masyarakat generasi sekarang yang berbeda seperti pendahulunya.

Jika generasi lama menganggap pernikahan harus dilaksanakan segerasekarang pemahamannya berbeda.

Baca Juga: Ular Sepanjang Satu Meter Gemparkan Warga Grogol Kediri, Damkar Lakukan Hal Ini

Masyarakat modern lebih beranggapan pernikahan baru dilakukan jika sudah memiliki karir yang tinggi.

Mulai dari masalah pendidikan, hingga perekonomian harus mapan terlebih dahulu.

“Kalau orang dulu justru menganggap bahwa rezeki itu datangketika sudah menikah,” jelasnya sembari menyebut mayoritas generasi sekarang memilih menunda pernikahan.

Bahkan, ada yang memiliki standar khusus. Misalnya, harus punya rumah dulu atau punya mobil dulu sebelum menikah.

Baca Juga: Lebah Vespa Bikin Warga Tarokan Kediri Resah, Damkar Turun Tangan

Ini analisa secara global. Pekerjaan juga menuntut pendidikan. Sehingga agar bisa mapan harus sekolahyang tinggi dulu,” papar Cahya.

Jika zaman dulu perempuan yang tidak segera menikah dianggap sebagai aib, sekarang Gen-Z tidak memedulikannya. Bahkan, ada yang lebih memilih untuk tidak menikah dan child free.

“Kalau sekarang lebih cuek dengan halsemacam itu (tidak segera menikah),” tandasnya.

Pengamat sosial dan komunikasi Dr M. Syarif Thoyib menilai fenomena penundaan pernikahan di kalangan generasi muda dipengaruhi berbagai faktor.

Baca Juga: Lebah Vespa Bikin Warga Tarokan Kediri Resah, Damkar Turun Tangan

Dosen UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung itu menyebut, persoalan ekonomi menjadi faktor paling dominan. Mulai dari biaya hidup yang terus meningkat.

Sementara kenaikan gaji dinilai tidak signifikan atau cenderung stagnan.

Kondisi tersebut membuat anak muda berpikir ulang untuk mengambil komitmen besar seperti pernikahan.

“Kalau mau menikah kan harus siap berkomitmen, termasuk soal rumah. Harga rumah sekarang tinggi dan tidak sebanding dengan potensi pendapatan generasi muda yang baru bekerja dengan gaji UMK,” jelasnya.

Selain itu, biaya pernikahan yang relatif besar juga menjadi pertimbangan serius. Menurut Syarif, komitmen finansial tidak berhenti pada saat akad. Melainkan justru semakin besar setelah menikah.

Baca Juga: Kenalkan Taman IPLT, Mbak Wali: Ini Taman Ramah untuk Sarana Edukasi

Hal itu membuat sebagian generasi Z memilih menunda hingga kondisi ekonomi benar-benar stabil. Selebihnya, faktor psikologis juga turut memengaruhi. Trauma sosial akibat kegagalan rumah tangga generasi sebelumnya menurut Syarif juga menjadi pembelajaran tersendiri.

Mereka belajar dari kasus-kasus itu. Ada rasa takut, jangan-jangan nantisaya juga mengalami hal yang sama,” ujarnya sembari menyebut perceraian yang tidak lagi dianggap tabu juga mengubah cara pandang generasi muda terhadap pernikahan 

Pernikahan di Kabupaten Kediri:

2024: 10.928

2023: ​​​11.628

2022: ​​​12.407

2021: ​​​11.725

2020: ​​​11.912

2019: ​​​12.875

2018: ​​​13.204

Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#angka pernikahan #Gen Z #Freedom #gaji #gaji kecil #childfree #ekonomi sulit #finansial #pernikahan #angka perceraian #BPS Badan Pusat Statistik