Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Rupiah Melemah, Ketua MUI Kiai Anwar Iskandar: Ekonomi Indonesia Tidak Baik

Ayu Ismawati • Jumat, 23 Januari 2026 | 07:00 WIB
KRITIS: Ketua Majelis Ulama Indonesia Kiai Anwar Iskandar memberi keterangan kepada wartawan terkait kondisi perekonomian di Ponpes Al Amien, Ngasinan kemarin (22/1).
KRITIS: Ketua Majelis Ulama Indonesia Kiai Anwar Iskandar memberi keterangan kepada wartawan terkait kondisi perekonomian di Ponpes Al Amien, Ngasinan kemarin (22/1).

KEDIRI, JP Radar Kediri- Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat di awal 2026 ini turut disoroti Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kiai Anwar Iskandar.

Nilai tukar rupiah yang hampir menyentuh Rp 17 ribu per dolar AS itu menurutnya jadi indikator ekonomi yang tidak sehat.

Dia meminta para pemegang otoritas keuangan negara segera menanganinya.

Untuk diketahui, nilai mata uang rupiah terhadap dolar AS menyentuh level terendah sepanjang masa pada pertengahan Januari ini. Bahkan lebih rendah dibanding kondisi saat krisis moneter pada 1998 lalu.

Saat itu nilai tukar rupiah menyentuh angka Rp 16.800. Sedangkan kemarin, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat Rp 16.888.

Menyikapi itu, Pengasuh Pondok Pesantren Al Amien Ngasinan Kediri itu mendorong agar para pemegang otoritas moneter bisa bersinergi.

“Saya pikir itu agar kondisi ekonomi tidak menjadi alat untuk menghancurkan sebuah negara. Karena di zaman modern ini penjajahan dan penghancuran negara tidak harus dengan senjata. Ekonomi bisa dibuat alat untuk menghancurkan sebuah negara,” pria yang akrab disapa Gus War itu.

Menurutnya, langkah cepat pemerintah menggelar rapat di Istana yang melibatkan Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, serta pemangku kebijakan lainnya patut diapresiasi.

Namun, dia menegaskan, sinergi antara otoritas fiskal, moneter, dan politik tidak boleh bersifat sementara.

“Yang kedua, uang itu harus produktif. Beredar di tengah-tengah masyarakat. Agar ekonomi rakyat berjalan sebagai satu kapital sehingga ekonomi itu berputar. Dari sana, pemerintah juga dapat pajak,” tegasnya terkait dampak perputaran ekonomi yang juga bisa berdampak pada penerimaan negara melalui pajak.

Dalam kesempatan kemarin Gus War juga menyoroti penurunan ekonomi karena uang yang tidak produktif beredar di masyarakat.

Sering kali uang didepositokan atau mengendap di bank. Itu yang menurutnya tidak baik bagi pertumbuhan ekonomi di masyarakat.

“Di daerah juga begitu. Uang dari pusat, mestinya dibagi ke bawah untuk mendukung UMKM, tapi kemudian dimasukkan lagi ke BI atau ke bank. Jadi tidak dipinjamkan atau diproduktifkan, melainkan dimasukkan bank. Itu tidak baik,” papar Gus War.

Dia juga menyinggung persoalan pajak yang dinilainya belum sepenuhnya berkeadilan.

Dalam kondisi ekonomi yang lemah, penarikan pajak kepada masyarakat kecil dinilai tidak tepat dan bertentangan dengan prinsip keadilan.

“Sekarang melihat praktik di lapangan, pedagang kecil di pasar pagi-pagi belum laku sudah ditariki. Jangan gitu, lah. Yang ditarik pajak itu yang kuat-kuat saja. Rakyat kecil yang penghasilannya sehari cuma Rp 100 ribu, belum apa-apa sudah ditarik pajak. Pemda juga jangan seperti itu, kasihan. Itu tidak adil, dan dalam Islam, itu haram,” tegasnya.

Selain itu, KH Anwar Iskandar juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang dapat memperkeruh situasi ekonomi dan sosial.

“Masyarakat saya mohon tetap tenang, bekerja seperti biasa. Dan waspada terhadap upaya-upaya yang ingin mengadu domba rakyat,” tandasnya. 

 Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#Anwar Iskandar #nilai tukar rupiah #rupiah anjlok #ketua mui #majelis ulama indonesia #Gus War