JP Radar Kediri - Pemdes Bangkok membangun Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) untuk mengatasi permasalahan sampah pasar desa dan rumah tangga.
Tak hanya berfungsi sebagai tempat pembuangan. Di sana sampah juga dipilah dan dimanfaatkan kembali menjadi kerajinan serta pupuk organik.
TPST ini memiliki luas sekitar 200 ru dan dibangun di lahan persawahan agar kegiatan pengolahan tidak mengganggu warga sekitar.
Saat ini, TPST memiliki dua pegawai yang bertugas memilah serta mengangkut sampah dari pasar dan rumah tangga.
“Awal tercetusnya ide ini karena desa kami memiliki pasar. Sebelumnya, pedagang membuang sampah ke sungai hingga mencemari lingkungan. Oleh karena itu, desa berinisiatif membangun TPST,” ungkap Sekretaris Desa Bangkok Muqoddim Amrulloh.
TPST tersebut sudah berjalan selama 8 tahun. Awalnya hanya melayani sampah pasar. Namun mulai ramai diikuti warga dalam 5 tahun terakhir.
Sejak awal dibangun, tujuannya tidak hanya untuk pengelolaan sampah. Tetapi juga sebagai sarana edukasi. Bahkan, pengelola pernah bekerja sama dengan pabrik makanan untuk mengolah sisa produksi.
“Kami pernah bekerja sama dengan PT Indomarko untuk pembuangan sisa produksi, yang ternyata bisa dimanfaatkan kembali untuk pakan ternak,” lanjutnya.
Mekanisme di TPST ini adalah petugas rutin mengangkut sampah dari rumah warga dan pasar setiap tiga hari sekali.
Sampah kemudian dipilah antara sampah plastik, sampah organik, dan sampah residu yang tidak bisa dimanfaatkan kembali untuk dimusnahkan. Sampah plastik yang terkumpul akan dijual ke pengepul barang bekas.
Ke depannya, TPST ini akan dikelola oleh unit BUMDes untuk memproduksi pupuk organik. Pengolahannya memanfaatkan sampah organik seperti sisa sayur dan buah. Nantinya dicampur dengan kotoran hewan dari peternak setempat.
“Lahan di sana masih luas, alat dan persiapan lainnya pun sudah ada. Harapannya produksi bisa segera beroperasi,” tambah Muqoddim.
Produksi pupuk organik dipilih karena selain sebagai solusi pengolahan sampah, pasarnya pun sudah tersedia.
Selain itu, banyak warga yang berpengalaman dalam pembuatan pupuk organik karena adanya kelompok tani pegiat tanaman organik. Seperti jagung dan padi.
“Pemasaran nantinya akan dimulai dari kelompok tani terlebih dahulu, kemudian perlahan merambah ke masyarakat yang lebih luas,” tandasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita