JP Radar Kediri - Desa Doko, Kecamatan Ngasem, menaruh perhatian besar pada bidang kesehatan. Hal tersebut dibuktikan melalui berbagai inovasi program yang dijalankan untuk meningkatkan kesejahteraan warga, mulai dari forum diskusi bersama ahli gizi, layanan home care, hingga aksi donor darah rutin.
Untuk mengentaskan kasus anak stunting, Pemerintah Desa (Pemdes) melakukan pemantauan ketat melalui grup diskusi yang beranggotakan orang tua, kader, bidan desa, hingga Kepala Desa. Program ini dinamakan Dipa Bahagia, singkatan dari Diskusi Pagi Bahas Gizi Ananda.
“Setiap hari kami menyapa mereka. Orang tua diminta untuk membagikan menu makanan anak (spill menu), lalu kami tinjau apakah kandungan gizinya sudah sesuai atau belum,” ungkap Bidan Desa Doko, Agustina Budi Wahyuti.
Program Dipa Bahagia diharapkan menjadi wadah bagi orang tua untuk saling berdiskusi mengenai kesehatan anak, sehingga angka stunting dapat ditekan secara signifikan. Saat ini, tercatat ada sekitar 12 anak yang mengalami stunting di Desa Doko, atau sekitar 5 persen dari total angka kelahiran. Selain melalui forum daring, pengawasan juga tetap dilakukan secara intensif melalui agenda Posyandu rutin.
Pemdes Doko juga memiliki program Home Care Joyo Kusumo. Program ini menyasar keluarga kurang mampu atau warga yang memiliki keterbatasan akses kesehatan untuk mendapatkan pendampingan, pemeriksaan awal, hingga bantuan rujukan ke rumah sakit. Hal ini merupakan wujud nyata kehadiran negara di tengah masyarakat yang membutuhkan pertolongan medis darurat.
“Ada juga program Aksi Donor Darah (Sidora) yang dilaksanakan rutin setiap tiga bulan sekali pada malam hari agar tidak mengganggu aktivitas warga di siang hari,” tambah Agustina.
Saat ini, Pemdes juga tengah aktif memantau kasus penyakit TBC yang sedang meningkat. Di lingkup Kecamatan Ngasem, Desa Doko menempati urutan kelima dalam jumlah kasus tersebut. Untuk mengantisipasi penyebaran yang lebih luas, Pemdes mengawali gerakan dengan melakukan pertemuan sosialisasi di tingkat RT dan terjun langsung menemui warga guna memberikan edukasi kesehatan.
“Ini upaya antisipasi. Kami ingin warga memeriksakan diri sejak dini sebelum kondisi mereka parah, sehingga angka kasusnya tidak terus bertambah dan mata rantai penularan dapat segera terputus,” pungkasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita