KEDIRI, JP Radar Kediri-Salah satu opsi untuk meningkatkan pendapatan asli desa (PADes) setelah dana desa (DD) turun sekitar 70 persen, bisa dengan menaikkan sewa aset desa.
Namun, pemerintah desa tidak berani melakukan hal tersebut. Mereka lebih memilih untuk menaikkan pendapatan lewat operasional Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Kepala Desa Sepawon, Plosoklaten Rahmad Sudrajat mengatakan, desanya memiliki tanah kas desa seluas satu hektare yang disewakan.
Setiap tahun pemerintah desa (pemdes) mendapat sewa Rp 10,5 juta. “Yang jadi pemasukan salah satunya itu,” kata Rahmad.
Dengan berkurangnya DD, diakui Rahmad jika menaikkan harga sewa tanah tersebut bisa meningkatkan pendapatan desa.
Namun, jika opsi itu dipilih dia khawatir penyewanya justru kabur atau tidak memperpanjang sewa. “Bisa dinaikkan, tapi yang mau menyewa dengan harga tinggi siapa?” lanjutnya dengan nada tanya.
Memahami realita itu, Rahmad memilih alternatif lain. Salah satunya dengan menghidupkan BUMDes. Pada 2025 lalu, dia sudah menyuntikkan modal sebesar 20 persen dari DD untuk BUMDes.
“Diupayakan pengelolaan air bersih melalui BUMDes. Tahun ini BUMDes mulai melakukan sistem air bersihnya,” terang Rahmad sembari menyebut pihaknya akan mencari mahasiswa atau kerja sama dengan perguruan tinggi untuk mencari potensi di desa yang bisa dikembangkan.
Dilema yang sama juga dirasakan Kepala Desa Kwadungan Ngasem Abdul Khamid. Menurutnya Desa Kwadungan memiliki tiga aset ruko. Setiap satu unitnya disewakan Rp 7,5 juta per tahun.
Nilai sewa itu menurut Khamid sudah tinggi. Karenanya, jika dinaikkan lagi justru akan berisiko.
“Kasihan masyarakat yang memanfaatkan itu (ruko) untuk kegiatan ekonomi mereka. Dengan dinaikkan malah bisa jadi malah berhenti menyewa,” jelasnya.
Lebih jauh Khamid menyebut, tidak semua desa memiliki aset yang bernilai mahal. Ada yang bahkan nilainya sangat kecil.
Karenanya, menurut Khamid diperlukan intervensi dari pemerintah daerah untuk pemetaan potensi desa. Sehingga pendapatan mereka bisa meningkat.
Terpisah, Kepala Desa Balongjeruk, Kunjang Safi’i mengatakan, tahun ini desanya mendapat dana desa Rp 374 juta.
Meski nilainya tergolong paling tinggi, tetap saja hanya separo dibanding alokasi DD 2025 yang mencapai Rp 725 juta.
Untuk meningkatkan pendapatan, menurut Safi’i pemdes memiliki beberapa aset. Mulai dari tanah kas, ruko, dan pasar desa.
Dari beberapa aset tersebut mereka bisa mendapatkan Rp 105 jua per tahun.
PADes biasanya digunakan untuk membiayai kegiatan desa. Seperti kegiatan keagamaan, peringatan hari kemerdekaan, hingga dana kematian.
“Kalau ada orang meninggal di Desa Balongjeruk semuanya gratis. Kami anggarkan dari desa dengan dana PAD itu. Yang sebagian itu saya pribadi,” paparnya.
Apakah Pemdes Balongjeruk akan menaikkan sewa aset 2026 ini? Safi’i mengaku masih akan membahasnya.
Kenaikan harga sewa menurutnya berisiko membuat penyewa keberatan dan berhenti. Apalagi, selama ini mereka menerapkan tarif yang lebih rendah.
“Intinya kami juga memberikan bantuan lah kepada masyarakat,” akunya.
Seperti diberitakan, DD pada 2026 ini berkurang sekitar 70 persen. Jika alokasi DD tahun 2025 lalu mencapai Rp 372 miliar, tahun ini tinggal Rp 119 miliar saja.
Kepala Desa Tanjung, Pagu Don Vito Gusbaki mengatakan, dirinya fokus ke aset desa yang potensial untuk menambah PADes.
“Desa harus bergerak. Fokus ke aset desa yang bisa menghidupi desa,” terang pria yang juga koordinator Paguyuban Kepala Desa (PKD) itu.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Kabupaten Kediri Agus Cahyono melalui Kabid Bina Pemerintahan Desa DPMPD Henry Rustriandy mengatakan, desa memiliki kewenangan untuk menaikkan ataupun menurunkan harga sewa aset desa.
“Boleh, menyesuaikan, biasanya mengubahnya dalam perdes,” jelasnya.
Besaran sewa yang ditetapkan menurut Henry tergantung keputusan masing-masing desa. Termasuk mereka mempertimbangkan laku atau tidaknya aset.
Sebab, semakin besar harga sewa akan semakin besar pula potensi tidak lakunya aset.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian