KEDIRI, JP Radar Kediri- Pemkot Kediri segera mengoperasionalkan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) di Kota Kediri.
Itu setelah pembangunan akses jalan yang berada di Kelurahan Campurejo, Mojoroto itu selesai dibangun di akhir 2025.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Kediri Endang Kartika Sari mengatakan, pembangunan akses jalan sepanjang 250 meter itu tinggal menyisakan tahap finishing dan pembersihan. Beberapa pekerja pun masih nampak melakukan pekerjaan pembersihan di area jalan dan taman.
Untuk operasionalnya, pihaknya masih menyiapkan pembentukan unit pelaksana teknis (UPT).
“Kami kan sudah punya tangki sedot tinja. Jadi yang pertama nanti sasaran kami perkantoran, kemudian sanimas-sanimas (sanitasi berbasis masyarakat, Red),” ujar Endang.
Pemerintah Kota Kediri menargetkan fasilitas penunjang sanitasi itu bisa mulai operasional di pertengahan 2026 mendatang. Setelah itu, pihaknya akan membuat penjadwalan penyedotan lumpur tinja secara rutin.
Selain operasional dari Dinas PUPR, nantinya juga akan melibatkan perusahaan swasta yang bergerak di bidang jasa penyedotan limbah domestik.
“Jadi nanti kami koordinir supaya nanti pembuangannya dan pengelolaannya bisa di IPLT,” tandas Endang sembari menyebut upaya itu juga untuk meminimalisasi potensi pencemaran lingkungan dari limbah domestik yang tidak dikelola dengan baik.
Adapun sebelum bisa beroperasi, Endang mengatakan perlu disusun terlebih dahulu peraturan daerah (perda) yang spesifik mengatur pengelolaan air limbah. Terutama pengelolaan limbah domestik black water.
“Jadi nanti tahun depan kami sosialisasikan setelah perda-nya selesai. Karena untuk perda retribusinya itu sudah ada. Cuma untuk tata cara pengelolaan air limbahnya yang perlu dibuatkan perda karena tidak boleh kita membuang limbah—khususnya black water—sembarangan,” urai Endang.
Diperkirakan, operasional IPLT itu baru bisa dimulai pada pertengahan 2026 mendatang.
Adapun untuk retribusinya, menurut Endang di awal ini berkisar Rp 175 ribu per meter kubik untuk pelayanan dari pemerintah.
“Kalau swasta per tangki kalau tidak salah sekitar Rp 2 juta. Per tangki bisa sekitar 4 meter kubik,” urai Endang.
Untuk diketahui, Pemkot Kediri selesai membangun fasilitas IPLT pada akhir 2024 lalu. Pembangunan di lahan aset pemkot yang berada di Kelurahan Campurejo, Mojoroto, itu menelan anggaran sebanyak Rp 2,4 miliar.
Berdasar kajian Dinas PUPR Kota Kediri, IPLT itu bisa menampung hingga 15 meter kubik per harinya.
Fasilitas itu dibangun untuk menciptakan sanitasi aman di Kota Kediri. Yakni, terolahnya lumpur tinja demi memenuhi baku mutu air limbah domestik. IPLT itu diproyeksikan bisa melayani 50 ribu rumah tangga.
Atau, setara dengan sekitar 150 ribu jiwa. Dengan adanya fasilitas itu, ditargetkan limbah domestik tidak dibuang sembarang, khususnya ke saluran air, hingga menimbulkan pencemaran lingkungan.
Editor : rekian