KEDIRI, JP Radar Kediri- Jelang perayaan Natal dan tahun baru (Nataru), dinas perdagangan dan perindustrian (disperdagin) melakukan sidak parsel (11/12).
Menggandeng Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kediri, mereka membongkar kemasan parsel untuk memastikan tidak ada barang-barang kedaluwarsa yang dijual.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, pembongkaran parsel salah satunya dilakukan di Golden Swalayan.
Tim yang juga terdiri dari dinas kesehatan dan anggota Polres Kediri Kota itu membongkar salah satu parsel. Selanjutnya, mereka mengecek satu per satu tanggal kedaluwarsa di kemasan makanan.
Kepala Disperdagin Kota Kediri M. Ridwan melalui Kepala Bidang Perdagangan Rice Oryza Nusivera mengatakan, dari sidak sebelumnya, pemkot sudah menyarankan agar setiap parsel diberi keterangan daftar barang dan tanggal kedaluwarsa.
Dalam sidak itu, semua parsel sudah dipenuhi dengan arahan tersebut.
“Jadi kalau menemukan barang yang kiranya ada yang kedaluwarsa, mending jangan dibeli. Alhamdulillah di Golden tadi (11/12) tidak ada yang melebihi batas expired-nya,” ungkap Riris sembari menyebut barang di dalam parsel setidaknya harus memiliki batas kedaluwarsa minimal tiga bulan.
Selain sidak parsel, tim juga memantau harga sejumlah bahan pokok. Di antaranya beras, telur, minyak goreng, hingga bahan pangan lainnya.
Lewat upaya pengendalian harga itu, diharapkan tidak ada lonjakan harga bahan pangan di momen tertentu seperti Nataru ini.
“Kalau telur memang karena permintaannya meningkat. Seperti MBG juga meningkat permintaannya, produksi telur juga tidak sebanyak sebelum-sebelumnya, dan harga pakan juga naik. Makanya harganya meningkat,” terang perempuan yang akrab disapa Riris itu terkait kenaikan harga telur di Pasar Bandar kemarin.
Selain telur kemarin juga didapati kenaikan harga cabai rawit. Di tingkat eceran, harganya sudah mencapai Rp 80–90 ribu per kilogram.
Khusus untuk kenaikan cabai ini, menurut Riris karena produksi cabai yang terbatas.
Sementara itu, tim juga mendatangi salah satu gudang distributor minyak goreng di Kelurahan Bujel, Mojoroto.
Di sana, pihaknya menemukan masih kurang diperhatikannya aspek kebersihan gudang.
“Seperti SOP (standar operasional prosedur) penyimpanan barang-barang di gudang (masih kurang). Kami temukan ada minyak bersanding dengan tempat cuci tangan. Jadi kami sarankan agar dipisah biar bahan pokok itu tidak terkontaminasi. Baik rasa maupun baunya,” tandas Riris.
Editor : Andhika Attar Anindita