KEDIRI, JP Radar Kediri- Penyerapan pupuk subsidi di Kabupaten Kediri tercatat tinggi sepanjang tahun ini. Terutama untuk jenis urea dan NPK yang bahkan mendapat tambahan alokasi.
Namun, kondisi berbeda terjadi pada pupuk organik. Serapannya masih rendah karena dinilai kurang meyakinkan oleh sebagian petani.
Informasi yang dihimpun, serapa pupuk subsidi jenis NPK dan Urea diatas 70 persen. Namun, untuk pupuk organik hanya 53 persen.
Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri melalui Pengawas Alsintan Slamet mengungkapkan, mayoritas petani masih ragu terhadap hasil pupuk organik.
Mereka menilai kualitasnya sulit dilihat secara cepat karena tidak memberi perubahan visual instan seperti pupuk kimia, “Misalnya tanaman yang langsung tampak hijau setelah diberi urea,” jelasnya.
Padahal menurut Slamet, pupuk organik sebenarnya memberikan dampak positif jangka panjang. Terutama pada perbaikan sistem biologis tanah.
Tanah menjadi lebih gembur dan sehat, sementara hasil panen juga lebih baik karena residu kimia berkurang.
“Misalnya beras, yang dihasilkan lebih tahan lama serta tidak mudah basi. Dari pada yang kimia,” jelasnya.
Dia mengatakan sosialisasi terus dilakukan agar petani memahami manfaat organik. Terlebih lewat program desa inovasi organik.
Namun perubahan perilaku masih sulit karena sebagian petani menginginkan hasil cepat. “Terutama bagi mereka yang menggarap lahan sewa dan merasa tidak ingin rugi saat manfaatnya baru dirasakan di tahun berikutnya,” jelasnya.
Slamet menjelaskan rendahnya serapan pupuk organik juga berpotensi menyebabkan realokasi alokasi subsidi ke daerah lain.
Saat ini pemerintah provinsi sedang mendata kabupaten dengan serapan tinggi dan rendah. Hasilnya akan ditetapkan dalam SK realokasi pupuk subsidi.
“Kabupaten Kediri sendiri masuk kategori serapan tinggi untuk urea dan NPK sehingga kembali mendapat tambahan alokasi bulan ini,” ucap Slamet.
Namun, Slamet menegaskan bahwa penentuan alokasi pupuk subsidi tahun depan tidak hanya ditentukan dari serapan saja.
Ada banyak pertimbangan lain seperti pengauan dalam RDKK, realisasi penggunaan, hingga luasan lahan yang menjadi dasar penghitungan kebutuhan pupuk bagi petani.
Editor : Andhika Attar Anindita