Pemdes Mukuh menunjukkan komitmen serius dalam penanganan stunting. Salah satunya dengan melaksanakan program intensif yang berhasil menekan angka kasus secara drastis.
Berkat kolaborasi tenaga ahli dan alokasi dana desa yang besar, jumlah anak stunting menurun. Tahun lalu jumlahnya ada 53 kasus. Lalu, menjadi hanya 14 kasus di tahun ini.
Program penanganan stunting menjadi salah satu prioritas utama di Desa Mukuh. Mereka mengalokasikan anggaran kesehatan sekitar Rp150 juta dari dana desa.
Anggaran tersebut digunakan untuk mendukung program penanganan stunting. Salah satunya adalah mendatangkan tenaga medis spesialis.
“Kami menggandeng dokter spesialis anak, Bapak Suryatmono dari RS Pare untuk melakukan pemeriksaan dan sosialisasi kesehatan anak,” jelas Kaur Perencanaan Desa Mukuh, Iwan Sulistiadi.
Iwan menambahkan bahwa perhatian dr Suryatmono terhadap Mukuh sangat besar. Itu karena desa ini merupakan lokasi kuliah kerja nyata (KKN) dia dahulu. Sehingga menjadi prioritas dalam program penanganan stunting.
“Jika ditemukan ada anak yang kondisinya rentan atau parah, akan segera kami rujuk ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut,” ucapnya.
Penurunan kasus stunting yang signifikan ini, menurut Iwan karena peran para kader-kader desa. Mengingat mereka sangat aktif dan telaten gerilya dari rumah ke rumah.
“Di sini kader tidak hanya melakukan pendataan dan pemeriksaan rutin di Posyandu. Tetapi juga menjemput warga yang tidak bisa hadir,” ungkapnya.
Selain pemeriksaan, program intensif ini juga mencakup pemberian makanan tambahan (PMT) desa dan susu setiap satu bulan sekali.
PMT dimasak langsung oleh para kader. Didasarkan pada anjuran menu bergizi dari dokter dan bidan.
Menurut Iwan angka stunting di Desa Mukuh sebelumnya dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan pola asuh orang tua yang kurang tepat. Oleh karena itu, selain pemberian gizi, setiap bulannya Pemdes juga mengadakan penyuluhan.
Pemberian PMT dan penyuluhan ini dilakukan dengan mendatangkan langsung orang tua sasaran untuk didata dan diberikan arahan.
“Penyuluhan ini sangat penting, fokus kami adalah mengajarkan bagaimana cara agar anak mau makan, karena itu juga menjadi kendala utama,” tandasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita