Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Berhenti Operasional, Nilai PBB di Area Bandara Dhoho Kediri Fluktuatif

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Rabu, 15 Oktober 2025 | 12:36 WIB

SEPI: Bandara Dhoho Kediri setelah berhenti operasional.
SEPI: Bandara Dhoho Kediri setelah berhenti operasional.
KEDIRI, JP Radar Kediri- Keberadaan Bandara Dhoho Kediri tidak hanya memberi dampak pada sektor transportasi. Tapi juga ikut berpengaruh langsung terhadap nilai Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Apalagi operasional bandara masih pasang surut. Dinilai sangat berpengaruh pada PBB.

Pengamat Ekonomi Subagyo mengatakan, bandara ikut menjadi faktor penyebab nilai PBB menjadi terdongkrak. Tapi bisa juga ngedrop karena operasional berhenti. Fluktuasi nilai PBB ini merupakan hal yang wajar.

Pada fase awal sebelum adanya proyek bandara nilai jual tanah di kawasan tersebut masih rendah karena aksesibilitas terbatas dan infrastruktur pendukung belum tersedia. “Awalnya lahan kosong, tidak ada aktivitas ekonomi yang menonjol sehingga nilai tanah rendah dan PBB juga kecil. Itu hal yang normal,” ujar Subagyo.

Namun kondisi itu berubah ketika proyek Bandara Dhoho mulai dibangun. Pada fase kedua ini, nilai PBB otomatis naik karena tanah yang sebelumnya kosong berubah menjadi kawasan yang memiliki bangunan dan infrastruktur baru.

“Saat ada pembangunan bandara, ekspektasi masyarakat ikut meningkat. Harapan akan aktivitas ekonomi yang tumbuh, adanya pasokan listrik, air, dan jalan baru mendorong kenaikan harga tanah. Maka pemerintah daerah akan menyesuaikan tarif PBB mengikuti lonjakan harga pasar,” ungkapnya.

Kenaikan harga PBB itu dipicu karena meningkatnya permintaan tanah. Investor pun mulai melirik kawasan sekitar bandara sebagai lokasi strategis. Banyak yang membeli atau menyewa lahan untuk kepentingan usaha, perumahan, maupun investasi jangka panjang. Itu menjadi efek domino dari kehadiran bandara. Selalu diikuti geliat ekonomi baru di sekitarnya.

Kondisi itu bisa berbalik sewaktu-waktu. Ketika aktivitas bandara lesu atau tidak beroperasi penuh. Permintaan tanah akan turun, yang kemudian membuat nilai jual objek pajak (NJOP) disesuaikan kembali.

“Jika bandara mati suri, kawasan sepi, maka PBB juga harus ikut turun. Itu sudah sesuai dengan asas keadilan masyarakat. Pajak harus mencerminkan nilai pasar yang sesungguhnya,” tegasnya.

Untuk mengembalikan stabilitas ekonomi di kawasan sekitar Bandara Dhoho, Subagyo menyarankan agar pemerintah segera mengoptimalkan kembali operasional bandara. Salah satu langkah yang bisa ditempuh adalah melakukan diversifikasi fungsi bandara, misalnya digunakan untuk pemberangkatan haji dan umrah. Selain itu, perlu ada kerja sama lintas daerah agar bandara benar-benar hidup.

“Pemkab Kediri bisa bekerja sama dengan daerah penyangga seperti Trenggalek, Tulungagung, Blitar, dan Nganjuk. Warganya bisa diarahkan menggunakan Bandara Dhoho untuk perjalanan ke Jakarta atau kota besar lainnya,” sarannya.

Baca Juga: Lanjutkan Program Lama, Disperdagin Kota Kediri Bakal Tertibkan PKL

Sementara itu Kepala Bapenda Kabupaten Kediri Eko Setiyono mengatakan, adanya penambahan struktur bangunan akan menambah nilainya. “Otomatis nilai juga naik,” jelasnya. Karena sekarang operasional mati suri, membuat PBB kembali ke harga normal.

Untuk mendapatkan berita- berita terkini  Jawa Pos  Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#kediri #bandara dhoho kediri #pbb #bandara dhoho #operasional #operasional bandara