Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

TPS3R Belum Maksimal, Mayoritas Tetap Masuk ke TPA Klotok, Ini Masalahnya

Ayu Ismawati • Kamis, 9 Oktober 2025 | 16:57 WIB

 

OVERLOAD: Kondisi TPA Klotok dengan sampah yang menggunung difoto dari udara.
OVERLOAD: Kondisi TPA Klotok dengan sampah yang menggunung difoto dari udara.

JP Radar Kediri-Delapan tempat pembuangan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R) belum bisa mengolah sampah secara maksimal. Satu TPS3R baru bisa menampung sekitar satu ton sampah saja setiap harinya. Sekitar 80 persen lainnya tetap masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Klotok.

Seperti di TPS3R Banjarmlati. Di sana, rata-rata hanya bisa menampung sekitar 1,47 ton sampah tiap harinya. Meski sudah memiliki mesin pemilahan hingga pengolahan sampah, namun baru 20 persen sampah saja yang bisa diolah. Sisanya tetap dibuang ke TPA Klotok.

“Sebenarnya mesinnya bisa digunakan. Tapi belum digunakan karena penanganannya ini masih dinaikkan-dinaikkan saja (diangkut ke TPA, Red),” ujar Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Mlati Berseri Moh. Ali. 

Lebih jauh Ali mengatakan, pengelolaan TPS3R Banjarmlati dilakukan oleh pihak ketiga. Saat ini, pengolahan sampah dengan mesin itu belum berjalan maksimal karena kendala manajerial dari pihak ketiga. 

Sedangkan KSM yang terdiri dari warga setempat hanya bertugas menyediakan dan menampung sampah. Tidak sampai pada pengoperasian mesin. 

Padahal, jika pengolahan sampah menggunakan mesin dilakukan secara maksimal, tak menutup kemungkinan mengurangi sampah hingga tersisa residunya saja.

“Dan kembali pada tenaga kerjanya. Kami KSM kan swadaya. Kalau itu dilakukan dengan tenaga kerja katakanlah tujuh orang. Kami yakin (sampah, Red) bisa habis di sini,” sambungnya.

Dengan kondisi saat ini, Ali pun membenarkan masih banyaknya sampah yang belum bisa terolah secara maksimal. Rata-rata, 80 persen sampah tetap diarahkan ke TPA Klotok.

“Karena proses pemilahannya hanya yang botol-botol, kertas, plastiknya juga. Sedapatnya saja. Jadi belum maksimal,” akunya kepada Jawa Pos Radar Kediri kemarin (8/9).

Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri Indun Munawaroh mengakui belum maksimalnya TPS3R. Sedianya TPS tersebut harus bisa mengurangi kuantitas sampah yang masuk ke TPA, namun fungsinya belum optimal.

“Misalnya sampah yang masuk ke TPS3R ada 100 ton dalam sehari, idealnya tersisa 30 persen yang dikirim ke TPA. Ternyata tidak, masih sekitar 70 persen yang dikirim ke TPA,” ungkap Indun,

Diakui Indun, ada beberapa kendala di lapangan dalam pengolahan sama. Di antaranya, proses pengolahan mayoritas masih manual. Terutama saat memilah sampah. 

“Indikator TPS3R ini berfungsi optimal adalah semakin sedikit sampah yang dia kirim ke TPA,” sambungnya sembari menyebut DLHKP akan melakukan evaluasi sebelum menentukan kebijakan baru dalam pengolahan sampah. (*)

Editor : Mahfud
#tpa klotok #TPS3R