Pemdes Bangsongan menetapkan program ketahanan pangan sebagai prioritas utama dalam alokasi dana desa tahun 2025.
Program ini mencakup perbaikan infrastruktur jalan menuju lahan pertanian serta pengelolaan lahan untuk penanaman jagung dan padi melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).
Penanaman jagung dan padi sebagai bahan pokok dilakukan dengan menyewa lahan warga. Kemudian lahan itu dikelola secara mandiri oleh Bumdes.
Cara ini tidak hanya mendukung ketahanan pangan. Tetapi juga memberikan keuntungan bagi pemilik tanah.
“Selain pembangunan jalan menuju sawah, kami melalui Bumdes juga menyewa lahan milik warga yang kemudian ditanami padi dan jagung,” ujar Kepala Desa Bangsongan Supardi saat ditemui di kantornya.
Baca Juga: Pemkot Kediri Bangun Taman di Median Jalan IPLT, Dinas PUPR Targetkan Rampung Desember
Lahan seluas 1.500 ru disewa menggunakan kas desa. Sedangkan proses tanam hingga panen dilakukan langsung oleh bumdes.
Yang membuat program ini istimewa adalah penggunaan pupuk mandiri. Hasil fermentasi berbagai bahan alami. Seperti kotoran sapi, kulit tetes tebu, hingga sisa air padi.
“Beberapa bulan terakhir kami mencoba membuat pupuk sendiri dari kotoran sapi, kulit tetes, dan air perasan padi yang difermentasi,” ucapnya.
Produksi pupuk tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia. Sekaligus membuka peluang ekonomi jika kelak bisa diproduksi dalam skala besar.
Selain pupuk, Pemdes juga mendorong pembuatan pestisida nabati. Melalui penyuluhan bersama petugas pertanian, petani diajarkan cara membuat pembasmi hama.
Yakni dengan memanfaatkan umbi gadung yang bersifat racun. Caranya, umbi gadung dihaluskan lalu dicampur air, didiamkan beberapa saat, kemudian disemprotkan ke tanaman.
Untuk mengatasi hama tikus, rendaman gadung bisa dicampur dengan dedak atau tepung ikan, lalu dibentuk menjadi pelet.
“Gadung bisa digunakan untuk berbagai hama, mulai wereng, cambuk, ulat, hingga tikus,” jelas Supardi.
Menurutnya, program ini tidak hanya bertujuan menjaga ketahanan pangan, tetapi juga memberi edukasi kepada petani. Terutama mereka yang kurang mampu membeli pupuk dan pestisida kimia.
“Sasarannya ada dua, yaitu menjalankan program sekaligus memberikan sosialisasi bagi petani yang tidak mampu membeli pupuk maupun pestisida,” ungkapnya.
Untuk saat ini, produksi pupuk dan pestisida masih terbatas pada skala rumah tangga. Namun, Supardi berharap ke depan bisa dikembangkan lebih luas dan menjadi peluang ekonomi baru bagi Desa Bangsongan.
Editor : Andhika Attar Anindita