JP Radar Kediri - Penanganan pencemaran air sumur warga di Desa Plosolor, Kecamatan Plosoklaten terus dipantau oleh DPRD Kabupaten Kediri. Kemarin, Komisi III DPRD Kabupaten Kediri mengecek progres penanganan pencemaran air yang menimpa belasan warga bersama dengan dinas lingkungan hidup (DLH) dan beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya.
Untuk diketahui, total ada 17 kepala keluarga (KK) warga terdampak pencemaran air di Desa Plosolor. Cemaran diduga berasal dari limbah blotong (bekas pengolahan tebu) yang dibuang di kebun dekat pemukiman warga.
Sejak ditemukan indikasi pencemaran pada awal 2025 lalu, pemkab bersama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) MKSO Tebu Kebun Dhoho sudah melakukan penanganan. Di antaranya dengan membuatkan sumur di beberapa titik.
Kemarin, tim gabungan bersama PT SGN MKSO Tebu Kebun Dhoho mengecek kondisi air. Caranya membandingkan dengan air mineral. Selanjutnya, tim mencium bau air yang mulai tercemar sejak Januari lalu. Hasilnya, meski air terlihat jernih, masih ada sedikit bau.
Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Kediri Totok Minto Leksono mengatakan, peninjauan progres pencemaran kemarin menindaklanjuti permintaan dari masyarakat. Mereka mengirim surat ke DPRD memberi kabar tentang perkembangan pencemaran air di wilayahnya. “Walau sudah ada perbaikan-perbaikan (pembuatan sumur) namun, masih ada dampaknya,” kata Totok.
Peninjauan kemarin, menurut Totok untuk memastikan kondisi sumur baru warga. Dia mengakui jika masih ada sedikit bau di air sumur terdampak pencemaran itu. “Terus gimana solusinya, setelah ini dibahas,” lanjut Totok.
Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Kediri Widyo Harsono menambahkan, dengan masih berbaunya air sumur warga, dia mengusulkan agar dibuatkan sumur dalam. “Kedalamannya 100 meter,” kata Harsono mengusulkan solusi.
Pihak terkait menurut Harsono bisa saja membuatkan satu sumur dalam. Selanjutnya, airnya bisa disalurkan ke 17 KK warga terdampak pencemaran. Sehingga, pencemaran di sana teratasi.
Sebelumnya, PT SGN sudah membangunkan sumur untuk warga terdampak. Kedalamannya mencapai belasan meter. Kepala Desa Plosolor Pujiyono mengatakan, dari belasan warga terdampak, air yang benar-benar jernih dan aman dikonsumsi hanya dari satu sumur. “Yang lainnya jernih tapi masih bau. Yang benar-benar steril dan bisa diminum hanya satu, miliknya pak Munaim,” terangnya.
Terpisah, Munaim, 51, menuturkan, meski air di sumurnya jernih, namun masih ada sedikit bau. Dia pun tidak berani untuk meminumnya.
“Jernih dan steril itu kan kata kepala desa. Tapi ini masih bau,” tandasnya.
Hal senada diungkapkan oleh Bintoro Edi, 36. Menurutnya, meski air dari sumur baru itu jernih, saat didiamkan tetap ada endapan. Karenanya, warga tidak berani mengonsumsi air tersebut. Melainkan mengambil dari sumur tua desa terdekat.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira