KOTA, JP Radar Kediri-Distribusi paket makan bergizi gratis (MBG) di Kota Kediri semakin luas. Hingga minggu ke tiga Agustus ini total ada lebih dari delapan ribu siswa berbagai jenjang yang mendapat jatah.
Sayangnya, paket yang diterima anak-anak itu tergolong minimalis. Misalnya untuk sayuran siswa hanya dapat jatah 5-6 iris.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri di SDN Bandarkidul 3 kemarin (21/8), siswa mendapat menu yang terdiri dari nasi putih, satu potong ayam goreng, satu potong buah melon, satu potong tahu goreng, dan 5-6 iris oseng wortel baby corn.
“Paket hemat” MBG itu diantarkan ke sekolah sekitar pukul 08.00. Selanjutnya, mulai didistribusikan ke siswa pada saat istirahat pukul 09.30. Menerima menu makanan minimalis itu, siswa terlihat mencemili beberapa iris sayur oseng yang mereka terima.
Saking sedikitnya sayur oseng yang diterima, setelah diambil satu iris saja tinggal menyisakan empat hingga lima iris di ompreng mereka. Nadin, siswa kelas IV mengatakan, selama tiga hari terakhir dia menerima menu yang berbeda-beda.
Mulai kentang dan ayam goreng, nasi kuning, hingga kombinasi nasi, sayur, dan ayam goreng. Sayangnya, tak semua makanan dalam satu paket MBG itu dia habiskan. “Nggak suka melonnya,” ujar bocah berusia 9 tahun yang memilih menyisihkan buah di omprengnya.
Di kelas dia juga hanya memakan nasi serta oseng sayur baby corn saja. Adapun sepotong ayam goreng dan tahu goreng dipindahkan ke wadah bekal yang sengaja di bawa dari rumah. “Nggak apa-apa (nggak dimakan). Buat makan nanti siang,” aku pelajar berjilbab itu.
Senada dengan Nadin, Izza, 10, siswa kelas IV lainnya juga tidak mengonsumsi buah melon yang diterimanya karena tidak suka. “Sayurnya suka semua. Tapi lebih enak yang kemarin (20/8) karena nasi kuning,” akunya.
Terkait distribusi MBG di sekolahnya, Kepala SDN Bandarkidul 3 Anis Wahyuni mengatakan, pihaknya menerima paket MBG sejak Selasa (19/8) lalu. Menurutnya, anak-anak relatif suka dengan menu makanan yang diterima.
Namun, dia tak mengelak jika porsinya terlalu sedikit. “Anak-anak sebenarnya suka semua. Setiap hari saya tanya ke anak-anak. Cuma ya porsinya sedikit,” ungkap Anis tentang alokasi MBG untuk 150 siswa di sana.
Bahkan, menurut Anis porsi yang diterima untuk siswa kelas 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 tidak sama. “Porsinya berbeda (siswa kelas 1, 2, dan 3 lebih sedikit lagi) tapi menunya sama,” lanjut Anis menyambut baik program MBG.
Hanya saja, menurutnya pengiriman paket MBG ke sekolah terlalu pagi. Mereka menerima paket pukul 08.00. Sehingga harus segera dikonsumsi di waktu istirahat pertama.
“Biasanya kan anak makan siang terus salat sekitar jam 12.00 sampai jam 13.00, di jam istirahat kedua. Sedangkan waktu istirahat pertama hanya 15 menit. Tidak cukup (waktunya, Red), apalagi anak-anak,” keluhnya merasa dilematis.
Praktik di lapangan, waktu penyaluran selalu berbenturan dengan kegiatan belajar mengajar. Menyiasati itu, guru pun meminta siswa membawa kotak bekal kosong dari rumah. Sehingga, mereka bisa menghabiskan makanannya di rumah.
“Mungkin bisa sekitar jam 11-an disalurkan (agar tidak memangkas jam pelajaran, Red). Dan nanti mungkin 5-10 menit jelang mereka istirahat, kita bagikan,” pintanya.
Informasi yang diterima koran ini, ada empat dapur baru yang beroperasi mulai pekan ini. Tiga dapur berada di Kecamatan Mojoroto. Sedangkan satu dapur berada di Kecamatan Pesantren. Dengan dapur-dapur baru itu, diperkirakan ada lebih dari 8 ribu pelajar menjadi sasaran penerima manfaat.
Dikonfirmasi terkait operasional empat dapur SPPG baru, Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri M. Anang Kurniawan mengaku belum menerima data terbaru. Sehingga, dia tidak mengetahuinya. “Tidak ada laporan ke dinas pendidikan. Tapi prinsipnya kami mendukung program MBG,” ungkap Anang sembari menyebut distribusi MBG ditangani oleh Pusat.
Terpisah, Komandan Kodim 0809/Kediri Letkol Inf Ragil Jaka Utama mengatakan, mayoritas SPPG yang beroperasi merupakan dapur mandiri. Terkait operasional empat dapur baru pekan ini, Ragil juga mengaku kurang mengetahui. “Karena rata-rata dapur mandiri yang operasi, bukan di bawah kodim,” tandasnya.
Untuk diketahui, sebelumnya sudah ada tiga dapur yang beroperasi di Kota Kediri. Dengan tambahan empat dapur ini, total ada tujuh dapur yang beroperasi di wilayah Kota Kediri. Sayangnya, Koordinator SPPI Kota Kediri Armetyansyah belum bisa dikonfirmasi hingga pukul 13.11 kemarin (21/8). Dia juga belum menjawab saat ditelpon koran ini.
“Mohon maaf sedang ada giat rapat. Nanti saya kabari,” balasnya melalui pesan WhatsApp.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira