Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Pejuang Kediri Nyaris Meledakkan Jembatan Lama saat Agresi Militer II, Ini Penyebabnya

Ayu Ismawati • Rabu, 20 Agustus 2025 | 00:26 WIB

BESEJARAH: Jembatan Lama Kota Kediri tampak dari atas.
BESEJARAH: Jembatan Lama Kota Kediri tampak dari atas.
KEDIRI, JP Radar Kediri- Pada masa Agresi Militer II, Kediri punya peran penting sebagai jalur penghubung utama Surabaya dan Madiun. Pada saat itu, kota ini menjadi objek strategis untuk kembali dikuasai. Saat situasi memanas, jembatan dengan struktur besi pertama di Pulau Jawa itu pernah nyaris diledakkan saat Agresi Militer Belanda 2 pada 1949.

Pengamat Sejarah Kediri Achmad Zainal Fachris mengatakan, saat itu Jembatan Lama menjadi jembatan penyeberangan Sungai Brantas yang paling utama menghubungkan akses transportasi dari Madiun ke Surabaya dan sebaliknya. Sehingga, Kediri pun menjadi daerah yang strategis karena memiliki jembatan tersebut.

“Waktu Agresi Militer Belanda II, mereka masuknya dari arah Lodoyo, Blitar. Langsung dari timur sungai mau masuk Kediri. Di jembatan itu sudah dipasang dinamit sama anak buahnya Pak Soerachmad untuk diledakkan,” ujar pria yang akrab disapa Fachris itu.

Sebab saat itu, pusat pemerintahan berada di barat sungai. Pasukan Belanda yang datang dari arah timur pun sudah diintai dari barat. Fachris mengatakan, pasukan pejuang mengintai dari balik tembok-tembok di sisi barat jembatan. Upaya meledakkan jembatan untuk menghalau pasukan Belanda itupun digagalkan dengan tembakan sniper.

“Karena itu, pusat pemerintahan yang ada di barat sungai itu akhirnya dikuasai Belanda. Tetapi sisi positifnya, kita sekarang masih punya jembatan besi tertua di Pulau Jawa itu,” ungkap Fachris sembari menyebut, dampak peledakan itu bisa menyebabkan jembatan yang dibangun pada 1855 itu rusak berat.

Jejak upaya mempertahankan wilayah itu sampai sekarang masih ada. Salah satunya di ujung jembatan di sisi barat yang dulunya dijadikan benteng pengintai oleh tentara pejuang.
“Ada seperti bangunan yang melengkung, di situ ada lubang-lubangnya. Benteng itu yang dijadikan menara pengintai untuk menembak dan mengawasi siapa saja yang melintasi jembatan,” beber guru sejarah MAN 2 Kota Kediri itu.

Hingga saat ini, jembatan yang sudah berusia ratusan tahun itu masih berdiri kokoh. Hanya saja, Jembatan Lama sudah tidak difungsikan sebagai akses penyeberangan utama yang menghubungkan timur dan barat sungai. Apalagi semenjak Jembatan Brawijaya dibangun di sebelahnya.

Jembatan Lama kini hanya bisa dilewati oleh kendaraan tanpa mesin seperti sepeda dan becak. Pun pejalan kaki seperti pedagang Pasar Bandar yang masih sering melintas di pagi hari dengan membawa barang dagangannya.

“Dulu semua kendaraan ya lewatnya situ. Makanya Kediri menjadi strategis. Dan Kediri tidak lagi strategis setelah ada Jembatan Kertosono. Di sana jalur itu diperkuat dengan adanya jalur kereta api Surabaya-Madiun. Bahkan dulu gara-gara jalur kereta api itu, sampai mengubah ibukota Nganjuk dari Berbek ke Nganjuk,” urai Fachris.

Untuk mendapatkan berita- berita terkini  Jawa Pos  Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#kediri #jembatan lama #sungai brantas #agresi militer #belanda #sejarah #kota kediri