Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Stadion Brawijaya Jadi Saksi Sejarah Awal Pembentukan Tentara Nasional Indonesia di Kediri

Ayu Ismawati • Sabtu, 16 Agustus 2025 | 05:55 WIB

Stadion Brawijaya Kota Kediri.
Stadion Brawijaya Kota Kediri.
KEDIRI, JP Radar Kediri- 

Begitu pekik proklamasi berkumandang di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta, situasi di daerah tak serta-merta merdeka. Salah satunya di Kediri yang kala itu masih di bawah kekuasaan Jepang. Para pejuang kemerdekaan justru baru memulai perang. Diawali dengan dibentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang merupakan cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Pengamat Sejarah Kediri Achmad Zainal Fachris mengatakan, BKR saat itu dibentuk oleh Daidancho Soerachmad. Dia adalah eks tentara Pembela Tanah Air (PETA). Markas BKR Resimen 34 berada di bangunan yang sekarang menjadi Ruko Jl Brawijaya. Dengan kantor yang kini difungsikan sebagai kantor Detasemen Zeni Bangunan 3/V Sub Detasemen Zeni Bangunan 043/V, Jalan Brawijaya.

 

“Saat itu, Soerachmad mengumpulkan kembali bekas-bekas tentara PETA yang dulu pernah menjadi anak buahnya untuk dibuat kesatuan BKR. Termasuk salah satunya adalah Mayor Bismo,” terang pria yang akrab disapa Fachris itu.

Adapun BKR memiliki peran penting dalam pembentukan organisasi kemiliteran di Indonesia, khususnya di Jawa Timur. Tak lama setelah itu, BKR berganti menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Daidancho Soerachmad juga berperan dalam pembentukan Divisi 1 Brawijaya yang merupakan komando kewilayahan pertahanan di Jawa Timur. Divisi 1 Brawijaya itu juga dikenal sebagai cikal bakal Kodam V/Brawijaya.

 

“Pembentukan Divisi 1 Jawa Timur itu diresmikan di Lapangan Brawijaya (Stadion Brawijaya). Jadi Kodam V Brawijaya yang sekarang itu dibentuk di Kediri pada Desember tahun 1948. Jadi kenapa dinamakan Kodam Brawijaya? Karena dibentuk di Lapangan Brawijaya ini,” ungkapnya.

Divisi 1 Brawijaya itu lalu terbagi dalam tiga brigade. Termasuk Brigade II yang dipimpin Soerachmad debagai panglimanya. Brigade terbesar di Divisi 1 Brawijaya itu juga dikenal sebagai Brigade S. Sejak itu, perang pun terus bergejolak di berbagai daerah. Termasuk saat kedatangan sekutu pada 29 September 1945 yang juga diboncengi oleh Netherland Indies Civil Administration (NICA).

“Brigade S ini paling besar, dilihat dari jumlah batalyon. Dan salah satu batalyonnya itu namanya Batalyon Sandi Yudha yang merupakan pasukan khususnya. Itu dipimpin oleh Mayor Bismo,” beber guru sejarah MAN 2 Kota Kediri itu.

Dengan demikian, proklamasi yang didengungkan pada 17 Agustus 1945 itu tak serta merta membawa situasi yang kondusif dan aman di daerah. Konflik tak hanya terjadi dengan Belanda yang terus datang, melainkan juga dengan sesama bangsa Indonesia.

Baca Juga: Bea Cukai dan Imigrasi Siap Awasi Penerbangan Internasional Bandara Dhoho Kediri

Selama masa pasca-kemerdekaan itu pula, peran orang-orang seperti Soerachmad dan Mayor Bismo sangat signifikan dalam merebut kemerdekaan. Dia juga yang dikenal memimpin proses pelucutan senjata tentara Kempetai–tentara rahasia Jepang yang dikenal kejam–di Markas Kempetai, di Jl Brawijaya.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#kediri #jakarta #saksi sejarah #Tentara Nasional Indonesia #Proklamasi #stadion brawijaya