Menurut pandangan Pengamat Hubungan Internasional Dimas Prakoso, Jawa Timur bagian Selatan, seperti Tulungagung, Blitar dan sekitarnya merupakan penyumbang Pekerja Migran Indonesia (PMI) terbanyak.
“Potensi itu idealnya bisa dimanfaatkan untuk mengundang maskapai agar mau terbang ke Bandara Dhoho,” jelas pria yang menjabat sebagai Ketua International Office UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.
Dia melanjutkan, tawaran juga bisa disampaikan ke maskapai low cost carrier (LCC) atau maskapai dengan cost rendah. Maskapai itu kerap digunakan TKI untuk berangkat ke luar negeri.
“Kenapa tidak mencoba ke maskapai-maskapai LCC? Ini bisa menjadikan Dhoho sebagai home base mereka,” terangnya.
Pria yang juga dosen komunikasi digital itu mengatakan, pihak bandara perlu lebih aktif melakukan sosialisasi. Utamanya pada lembaga vertikal pusat.
“Justru harusnya Bandara Dhoho dengan kekuatan milik swasta punya office di banyak kota di Indonesia bisa lakukan approach ke kementerian dan semuanya,” jelasnya.
Apalagi saat ini di kawasan sekitar Bandara Dhoho sudah tumbuh berbagai universitas. Dimas mengatakan, semua perguruan tinggi itu dituntut untuk internasionalisasi. Sehingga akan banyak mobilisasi ke luar negeri. Entah itu masuk atau keluar.
“Ketika kami akan melakukan perjalanan, penelitian ke Eropa atau ke US, ya kami lebih memilih lewat Surabaya. Karena memang rutenya banyak di sana,” jelasnya. Menurutnya penting dilakukan penambahan rute dan jadwal terbang.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian