Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih mengatakan, beras oplosan dijual dengan harga sesuai dengan beras bagusnya. Padahal dicampur dengan beras kualitas jelek.
“Contohnya beras medium dicampur dengan beras premium. Namun, dijual dengan harga premium,” jelasnya.
Sejauh ini, di Kabupaten Kediri hanya ditemukan beras medium yang harganyanya melebihi HET. Dia meminta agar masyarakat tetap waspada. Yakni dengan melakukan seleksi mandiri.
Secara awam, masyarakat bisa melihat ciri-ciri beras oplosan. Misalnya jumlah persentase beras kepala dengan beras pecah. Berikutnya, jika warna kekuningan berarti beras tersebut bukanlah tergolong premium. Kemudian dapat diketahui dari baunya yang tidak segar.
“Oplosan bisa jadi agak kekuningan. Karena kadar airnya berikutnya PH tidak sesuai standar. Tekstur ngrempel-ngrempel, itu juga bisa jadi indikasi,” jelasnya.
Karena itu, jika ada temuan, masyarakat bisa mengadu ke tim satgas pangan atau bisa ke dinas perdagangan, DKPP, DPMPTSP, hingga ke polres dan Bulog. “Nanti akan ditindaklanjuti secara tim,” jelasnya sembari menyebut jangan main-main dengan kebijakan mengoplos beras.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian