Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Survei Aktivis Lingkungan, Belum Semua Warga Tahu! Ini Alasan Perwali Anti Plastik Masih Belum Maksimal

Ayu Ismawati • Senin, 2 Juni 2025 | 11:25 WIB
Photo
Photo

Ada lagi kendala mengapa perwali tentang pembatasan penggunaan plastik sekali pakai belum terlalu signifikan mengurangi timbulan sampah plastik. Ternyata, masih banyak yang belum tahu tentang aturan tersebut.

Hal itu bisa dilihat dari hasil survei yang dilakukan Lembaga-lembaga peduli lingkungan. Tahun lalu Diet Plastik Indonesia, Ecoton, Yayasan Hijau Daun Mandiri, Forum Kali Brantas, dan DLHKP Kota Kediri melakukan survei.

Isinya terkait implementasi Perwali nomor 30/2023 tentang pembatasan plastik sekali pakai. Survei yang menyasar 711 responden dari seluruh kelurahan di Kota Kediri tersebut berlangung 27 April hingga 19 Mei 2024. Kesimpulannya, baru 48,4 persen masyarakat Kota Kediri dari total responden yang mengaku sudah tahu tentang perwali tersebut.

Menariknya, survei tersebut menunjukkan, meskipun banyak yang belum tahu tapi konsumsi plastik sekali pakai di tingkat rumahan mengalami penurunan. Termasuk penggunaan styrofoam dan sedotan plastik.

“Seperti penggunaan kantong kresek sebelum perwali berlaku (tingkat konsumsi, Red) 100 persen. Setelah berlaku, berkurang jadi 58 persen,” ujar

Menurutnya, beberapa masyarakat mengetahui aturan itu dari ruang-ruang publik yang menerapkan pembatasan plastik sekali pakai. Di antaranya seperti restoran hingga retail modern.

“Ketika ruang lingkup yang ada di perwali itu menerapkan pembatasan plastik sekali pakai, baru mereka tahu. Karena beberapa retail itu memasang brosur tentang pembatasan plastik, seperti dengan cara ditempel di kasir,” ungkapnya.

Dari survei itu, menurutnya ada beberapa kendala terkait penerapan pembatasan plastik sekali pakai di tingkat masyarakat. Di antaranya malas dan lupa membawa wadah atau kantong belanja sendiri, tidak memiliki wadah atau kantong belanja yang praktis, hingga harga produk alternatif plastik sekali pakai yang masih mahal.

Setelah adanya aturan itu, menurutnya masyarakat dan industri juga harus mulai membatasi pengurangan plastik sekali pakai. Termasuk dimulai dari kehidupan sehari-hari. Salah satunya lewat pola pengasuhan atau parenting kepada anak untuk membangun kesadaran tentang bahaya plastik sekali pakai.

“(Edukasi) pengurangan plastik sekali pakai sejak dini akan membuat kebiasaan yang baik bagi anak dan lingkungan sekitar. Sehingga harapannya dapat ditularkan ke teman-temannya,” tandas Chandra.

Aktivis lingkungan itu mengatakan, mengurangi dampak plastik sekali pakai juga harus dimulai dari masyarakat. Di antaranya dimulai dengan reuse movement atau gerakan menggunakan kembali barang untuk mengurangi limbah.

“Di dalam reuse movement itu ada returnable dan refillable. Returnable itu sistem di mana produsen menyediakan produk dengan kemasan yang bisa dikembalikan oleh konsumen dan digunakan kembali untuk isi produk yang baru,” bebernya, terkait salah satu langkah memulai kultur zero waste di masyarakat.

Metode itu juga menurutnya bisa diterapkan bagi masyarakat yang ingin memulai usaha toko refill. Yakni, saat semua produk dijual dengan metode isi ulang atau refill.

Selain itu, metode refillable juga bisa diterapkan untuk menekan timbulan sampah plastik. Yakni, saat kemasan produk bisa dimiliki oleh konsumen maupun disediakan oleh produsen untuk diisi kembali dengan produk baru di fasilitas pengisian ulang.

“Contohnya mengisi ulang air minum di tumbler lewat fasilitas isi ulang air minum. Masyarakat bisa menyediakan fasilitas refill station di ruang-ruang publik,” tandasnya sembari menyebut, dengan begitu sampah plastik sekali pakai bisa ditekan sekaligus menciptakan sistem sirkular yang berkelanjutan.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#perwali #sampah plastik #pemkot kediri