Hari ini, Kuwat memang tetap mengabdi sebagai guru. Bedanya, tak lagi berstatus honorer tapi sebagai PPPK. Kenaikan status yang dia syukuri meskipun setahun lagi pensiun.
Orang-orang berseragam putih-hitam itu langsung menyebar. Memenuhi sudut-sudut lapangan rumput di halaman Balai Kota Kediri.
Berkelompok, bercengkerama dengan riangnya. Saling tertawa dan bercanda. Kadang, diselingi dengan swafoto.
Salah seorang di antaranya adalah Kuwat. Pria yang kadang dipanggil Yosua itu adalah satu dari puluhan guru honorer yang kemarin menerima surat keputusan (SK) menjadi tenaga PPPK.
“Puji Gusti tiap bulan (saat menjadi guru honorer, Red) saya mendapat honor dari sekolah Rp 1 juta. Saya bersyukur sekalipun tinggal satu tahun sudah pensiun itu menjadi berkat yang luar biasa masih diberi kesempatan menjadi ASN,” ucap guru Agama Kristen di SD Negeri Burengan II Kota Kediri ini.
Ya, pria ini memang tergolong telat mendapat kenaikan status dari guru honorer menjadi PPPK. Ketika masa mengajarnya tinggal setahun lagi. Toh, semua itu tak mengurangi rasa bahagia pria 58 tahun ini.
“Masih ada sisa satu tahun kesempatan Tuhan memberikan kepada saya untuk mengabdi. Untuk mendidik dan menjadikan anak-anak lebih disiplin lagi. Lebih baik lagi dalam menuntut ilmu,” ujarnya.
Bagi guru yang sudah mengajar sejak 16 tahun lalu ini pengangkatan kemarin jelas membahagiakan. Membuat kesejahteraan sarjana teologi ini meningkat. Sebab, hak-hak setara ASN akan dia terima.
Seperti mendapat gaji sesuai Perpres 11/2024, tunjangan jabatan, hingga tambahan penghasilan pegawai (TPP).
Termasuk gaji ke-13 yang masih bisa dia dapatkan sebelum pensiun November 2026 mendatang. Apresiasi yang berbeda bila dibanding ketika statusnya masih sebagai sukarelawan (sukwan) alias tenaga honorer.
Pengangkatan menjadi PPPK kemarin sangat layak diterima Kuwat. Setidaknya bila dibandingkan dengan pengorbanannya selama ini.
Berumah di Ngunut, Tulungagung, sang guru ini harus menempuh jarak 40 kilometer untuk pergi mengajar. Bila pulang dan pergi, berarti dia harus melewati 80 kilometer jauhnya!
Tak heran bila dia harus berangkat pagi-pagi sekali, pukul 06, mengendarai sepeda motor. Diselingi dengan naik perahu penyeberangan.
“Jam enam pagi itu sudah harus berangkat. Kalau enggak, pasti terlambat. Walaupun sukwan, saya malu sama anak-anak kalau sampai terlambat,” akunya.
Meskipun jauh, Kuwat tak merasa lelah. Pun ketika usianya menapaki kepala lima. Naik kendaraan roda dua plus harus bertaruh nyawa karena menyeberang Sungai Brantas tetap dilakoninya.
“Pernah mencoba naik bus. Tapi sampai sekolah justru terlambat, jam sembilan,” kenangnya, sambil tertawa renyah.
Pilihan naik perahu penyeberangan memang seperti keharusan. Setidaknya untuk memangkas jarak dan waktu. Yaitu menaiki tambangan di Kunir, Ngunut.
Dengan begitu dia tidak harus memutar jalan dengan melewati Jembatan Ngujang yang jaraknya lebih jauh.
Hanya saja, jelas pilihan ini memiliki risiko. Terutama ketika debit air Sungai Brantas naik. Serta arusnya yang tak menentu.
“Sering kalau sungainya lagi banjir, ndak bisa nambang (naik perahu penyeberangan, Red). Akhirnya muter lewat Tulungagung. Sampai sekolah juga bisa jam sembilan,” bebernya.
Mengapa dia baru diangkat menjadi ASN ketika usianya sudah senja? Sudang di ambang pensiun?
Hal itu tak lepas dari formasi guru Agama Kristen yang jarang dibuka. Untuk formasi PPPK saja, menurutnya, baru 2024 lalu ada di Kota Kediri. Tanpa berpikir panjang, dia pun tak ingin melewatkan kesempatan langka tersebut.
“Puji Gusti saya lolos. Dulu pernah ada di luar kota. Saya pernah mencoba tetapi tidak bisa karena dari luar kota. Pikir saya karena saya sendiri dari Tulungagung, daftar di formasi Tulungagung. Ternyata nggak bisa,” kenangnya sembari mengatakan saat itu dia gagal di tahap pemberkasan.
Baca Juga: Alhamdulillah Resmi Disetujui! Gaji ke-13 PNS dan PPPK Segera Cair! Simak Besaran dan Jadwalnya
Hari ini, Kuwat memang tetap mengabdi sebagai guru. Namun dengan status yang berbeda. Toh, baik sebagai honorer maupun ASN, jasanya sebagai seorang guru tetap abadi. Dengan penuh rasa syukur, sisa satu tahun masa pengabdiannya akan dia jalani dengan suka cita.
“Kesempatan satu tahun ini akan saya pergunakan lebih baik lagi dalam bekerja karena sudah diangkat sebagai ASN PPPK,” tandasnya.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira