KOTA, JP Radar Kediri- Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengunjungi kediaman Nasiatin Aisyah, 53, dua kali dalam sehari dalam suasana yang sangat berbeda.
Sekitar pukul 11.00, Vinanda menyerahkan bantuan kursi roda kepada Nasiatin dengan harapan bisa membantu mobilitasnya yang sudah mengidap sakit komplikasi setahun terakhir.
Takdir berkata lain, perempuan asal Kelurahan Semampir itu meninggal dunia beberapa menit setelahnya. Vinanda pun kembali untuk menyampaikan duka cita beberapa menit setelahnya.
“Saya turut berduka atas kepergian Ibu Nasiatin. Semoga almarhum diampuni segala dosanya, amal ibadahnya diterima dan diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT,” ujarnya, yang langsung kembali ke kediaman mendiang begitu mendengar kabar tersebut.
Ainun Mustakim, kakak Nasiatin menuturkan, kondisi adiknya memang sudah memburuk sejak menderita sakit komplikasi setahun terakhir.
Nasiatin yang sebelumnya merantau di Tulungagung pun kembali pulang dan menjalani pengobatan di Kota Kediri.
“(Waktu pulang ke Kediri) akhirnya nge-drop dan saya bawa ke RS Bhayangkara. Karena komplikasi, dan akhirnya gagal ginjal sehingga harus rutin cuci darah,” ujarnya sembari menyebut mendiang juga baru menjalani cuci darah Sabtu (26/4) lalu.
Sebelumnya, Vinanda yang menjenguk sekaligus menyerahkan bantuan kursi roda juga sempat berkoordinasi dengan RSUD Gambiran.
Itu dengan harapan petugas medis bisa segera memeriksa kondisi Nasiatin yang sudah terbaring lemah di tempat tidur.
“Kebetulan Bu Nasiatin ini beliau komplikasi. Ada penyakit jantung dan baru terkena ginjal juga, stroke juga. Kondisinya memprihatinkan sehingga tadi saya hubungi Rumah Sakit Gambiran untuk menindaklanjuti kalau memang butuh diberikan upaya lebih lanjut,” ujar Vinanda, ditemui saat menyerahkan kursi roda kurang dari sejam sebelumnya.
Adapun di hari yang sama, wali kota termuda di Indonesia itu secara simbolis menyerahkan bantuan sosial berupa santunan kematian, biaya hidup, dan alat bantu untuk disabilitas.
Ratusan warga Kota Kediri menerima bantuan berupa bantuan langsung tunai yang bertempat di balai pertemuan Kelurahan Semampir, Kecamatan Kota.
“Ini bentuk kepedulian pemerintah untuk mengurangi beban di masyarakat,” terangnya.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Kediri Paulus Luhur Budi Prasetya menambahkan, dalam sehari itu ada 111 ahli waris yang menerima santunan kematian. Masing-masing penerima manfaat santunan kematian itu mendapat Rp 2 juta.
Kemudian, sebanyak 18 orang menjadi penerima bantuan biaya hidup dengan nominal yang berbeda.
Mereka adalah orang-orang yang masuk dalam data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS) dan mengajukan bantuan biaya hidup.
“Jadi di Kota Kediri kalau ada orang yang butuh biaya hidup, bisa mengajukan kepada Mbak Wali yang nanti akan kami asesmen,” ujar Paulus.
Berdasar hasil asesmen itu, setiap penerima manfaat akan mendapat nominal yang berbeda. Di antaranya mulai Rp 200 – 500 ribu per bulan.
“Diberikan setiap berapa bulan juga nggak sama, tergantung hasil asesmen,” sambungnya.
Untuk bisa mendapatkan bantuan biaya hidup, Paulus mengatakan saat ini penerimanya memang masih mengacu pada DTKS.
Namun, ke depannya dinas sosial akan menggunakan data tunggal sosial ekonomi nasional (DTSEN) sebagai data acuan. Dengan demikian, mereka yang berada dalam desil 1 dan 2 DTSEN yang berhak menjadi penerima manfaat.
“Tapi kalau sudah dapat bantuan dari pemerintah pusat, baik BPNT, PKH, atau dari provinsi dan daerah sudah ada, maka dia tidak bisa. Hanya untuk yang memang belum mendapatkan (bantuan, Red),” urai Paulus sembari menyebut, pihaknya juga akan melakukan asesmen untuk menilai kelayakan penerima manfaat.
Terkait penyaluran dua bantuan itu, menurutnya jumlah yang disalurkan juga tergantung permohonan dari masyarakat. Sebab, keduanya termasuk bantuan sosial yang tidak direncanakan.
“Besarannya juga tidak sama, tergantung hasil asesmen teman-teman di lapangan terhadap kondisi kehidupan pemohon,” ungkapnya.
Selain santuan kematian dan bantuan biaya hidup, Pemkot Kediri juga secara rutin menyalurkan alat bantu untuk disabilitas.
Paulus mengatakan, jenis alat bantunya pun beragam. Di antaranya kursi roda untuk anak berkebutuhan khusus, kursi roda untuk masyarakat yang sakit, sepatu AFO, hingga kruk.
“Alat bantu dengar juga ada. Kami memiliki tenaga fisioterapi untuk mengasesmen itu. Sehingga bantuannya bisa tepat sasaran,” pungkasnya.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira