Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Bukan Tugas Pemerintah Saja! Semua Harus Peduli Atasi Lahan Kritis di Kabupaten Kediri, Begini Kata Pengamat

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Sabtu, 26 April 2025 | 09:05 WIB
Hamparan tanaman tebu yang dahulu berisi pohon kopi dan cokelat dituding jadi biang terjadinya bencana banjir di Desa Sepawon, Plosoklaten.
Hamparan tanaman tebu yang dahulu berisi pohon kopi dan cokelat dituding jadi biang terjadinya bencana banjir di Desa Sepawon, Plosoklaten.

Bagaimana mengatasi problem lahan kritis? Pengamat Lingkungan Endang Pertiwi berpendapat, yang pertama, perlu adanya kesadaran masyarakat.

Hal itu sangat penting. Dengan adanya kesadaran dari setiap individu, maka upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah, maupun pihak-pihak lain bisa berjalan dengan baik.

“Tentu ini yang terpenting. Setiap individu, tidak hanya masyarakat saja, termasuk pemangku wilayah dan pihak lain harus peduli,” jelasnya.

Dengan demikian, sosialisasi secara masif juga terus dilakukan. Agar masyarakat bisa sadar dan semakin sadar.

Berikutnya, adanya alih fungsi lahan yang membuat lahan jadi kritis maka perlu kompensasi. Yaitu menyiapkan lahan sebagai pengganti.

“Kalau sudah ditempati bangunan, kita kan tidak bisa lagi menanam. Otomatis harus ada kompensasi. Harus ada lahan lain untuk menunjang hal tersebut,” jelas perempuan asal Kelurahan Bujel, Mojoroto, Kota Kediri ini.

Aturan yang tegas juga harus jadi salah satu upaya. Pasalnya, menurut Endang, banyak lahan hijau yang justru menjadi permukiman. Padahal aturannya sudah ada. Agar tidak membangun rumah di area seperti itu.

“Sebenarnya sudah ada (aturannya). Namun memang masih banyak yang melanggar. Perlu regulasi yang yang kuat dan tenanan,” tekannya.  

Menurutnya, lahan kritis sendiri merupakan lahan yang sudah tidak seperti sedia kala lagi. Tidak bisa berfungsi seperti sebelumnya.

“Kritis artinya sudah tidak seperti sedia kala yang vegetasi banyak, sumber air mungkin sebelumnya melimpah. Jadi kering, jadi sumber air hilang,” jelasnya.

 Menurutnya, selain berkurangnya vegetasi karena alih fungsi lahan, dan pola tanam, iklim juga jadi salah satu penyebab.

“Kondisi suhu panas biasanya banyak pohon secara alami tak bertahan. Sehingga mati, itu juga banyak. Tanah pun jadi gersang dan tidak produktif. Sumber air jadi mati,” jelasnya.

Sependapat dengan Koordinator Penyuluh Kehutanan CDK Kediri Pancadani Okto, adanya lahan kritis juga membawa banyak dampak buruk.

Mulai dari sering terjadi bencana. Seperti longsor dan banjir. Juga termasuk produktivitas lahan yang jadi berkurang. Berikutnya juga sumber air yang hilang.

“Yang menampung air hujan juga berkurang bahkan tidak ada. Itu berpengaruh pada sumber air. Kalau pohon habis, curah hujan tinggi, yg menampung air tidak ada. Ini bisa menyebabkan erosi, banjir. Penurunan kesuburan tanah,” jelasnya.  

“Dengan pohon berkurang, hujan diterima langsung tanah, kemampuan menyerap secara cepat juga tidak mampu. Itu akan dialirkan, pasti akan terjadi longsor, dialirkan ke wilayah lebih rendah, terjadi banjir,” terangnya.

Sementara itu, Pancadani Okto mengatakan, karena dilematis pihak CDK tidak bisa menekan masyarakat untuk mewajibkan menanam pohon. Maka yang bisa dilakukannya adalah dengan melakukan berbagai edukasi.

“Ya kesadaran masyarakat kalau seperti itu. Ya kita tidak bisa memaksa. Makanya perlu dilakukan edukasi terus-menerus,” jelasnya sembari menyebut bahwa pihaknya punya penyuluh di setiap kecamatan.

Selain itu, dia mengaku bahwa setiap tahun juga memberikan bantuan bibit tanaman. Utamanya bibit multipurpose tree species (MPTS).

Atau bibit tanaman kayu-kayuan yang memiliki banyak kegunaan atau manfaat (multiguna) dari sisi ekologi maupun dari sisi ekonomi. Seperti tanaman pohon yang menghasilkan buah. Seperti mangga, alpukat, dan sebagainya.

“Dilematis. Karena sumber makanan mereka dari lahan itu. Kalau tidak dicari win-win solution, maka akan sulit. Makanya salah satu opsinya dengan memberikan bantuan tersebut,” terangnya, sembari menyebut untuk di area sumber air, maka akan diberi bibit tanaman jenis ficus.

Sementara itu Humas Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kediri Sutoyo mengatakan, bahwa langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi lahan kritis salah satunya dengan membuat terasering.

Dengan dibuatnya terasering di lahan kritis yang berada di lereng, maka tidak hanya mengurangi kejadian bencana saja, seperti longsor. Namun juga bisa membuat tanah menjadi subur.

“Ketika lahan itu tidak ada terasering, maka tanah akan dengan mudah ikut terbawa air saat hujan. Namun ketika ada terasering, tanah akan tertahan, nutrisi dalam tanah juga tertahan,” jelasnya sembari menyebut pihaknya juga memasifkan kegiatan reboisasi.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar kediri #bencana banjir #bencana banjir awal tahun #Lahan Kritis Indonesia