Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri dr Muhammad Fajri Mubasysyir melalui Kabid Pelayanan Kesehatan Dwi Sunaryati mengatakan, pihaknya kali pertama mendapat arahan pelaksanaan PKG pada awal Februari. Pemprov Jatim menginstruksikan daerah untuk melakukan simulasi. Di antaranya untuk mengetahui waktu pelayanan untuk satu kali PKG.
"Misal anamnese berapa menit, pemeriksaan ini berapa menit. Terlaksana nggak di simulasi? Ternyata nggak terlaksana, belum bisa," aku Dwi sembari menyebut kebutuhan waktu PKG jauh lebih lama dibanding perkiraan.
Awalnya, pemeriksaan untuk satu orang diperkirakan hanya butuh waktu sekitar 30 menit. Praktiknya, pemeriksaan satu orang bisa memakan waktu hingga dua jam. Lamanya waktu salah satunya karena masih banyak kendala di lapangan.
"Makanya kami simulasi dulu. Nanti provinsi akan nge-list (mendata kendala, Red) nanti. Baru akan ketemu format yang pas untuk semuanya," lanjut Dwi sembari menyebut hingga saat ini masih belum ada formula yang pas dalam pelaksanaan PKG.
Apa saja kebutuhan penunjang untuk melaksanakan program Presiden Prabowo Subianto itu? Menurut Dwi masih banyak yang dibutuhkan. Namun, yang paling utama terkait sarana prasarana. Ada sejumlah peralatan baru yang dibutuhkan puskesmas. Salah satunya alat pemeriksaan darah.
Di tahap awal, PKG baru dilaksanakan di puskesmas yang menjadi fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP). Total ada sembilan puskesmas yang akan membuka layanan mulai Senin (10/2) lusa.
"Sebenarnya (PKG, Red) itu general check up tapi memakai metode skrining yang sama seperti diterapkan di ILP (integrasi layanan primer yang menerapkan kluster, Red)," ungkapnya.
Dengan metode skrining, masyarakat harus lebih dulu menjawab beberapa pertanyaan sebelum pemeriksaan. Selanjutnya, pemeriksaan lanjutan dilakukan sesuai indikasi hasil skrining.
"Ini kan dianggap pasien sehat. Tapi kalau ternyata ada keluhan, ya diperlakukan seperti pasien sakit," terang Dwi.
Dinas Kesehatan Kota Kediri akan melibatkan sembilan puskesmas di Kota Kediri untuk pelaksanaan pelayanan kesehatan gratis (PKG). Selain keterbatasan tenaga kesehatan di tiap puskesmas, antrean pasien yang bisa mencapai puluhan orang juga jadi pekerjaan rumah (PR).
Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri dr Muhammad Fajri Mubasysyir melalui Kabid Pelayanan Kesehatan Dwi Sunaryati mengatakan, pihaknya kali pertama mendapat arahan pelaksanaan PKG pada awal Februari. Pemprov Jatim menginstruksikan daerah untuk melakukan simulasi. Di antaranya untuk mengetahui waktu pelayanan untuk satu kali PKG.
"Misal anamnese berapa menit, pemeriksaan ini berapa menit. Terlaksana nggak di simulasi? Ternyata nggak terlaksana, belum bisa," aku Dwi sembari menyebut kebutuhan waktu PKG jauh lebih lama dibanding perkiraan.
Awalnya, pemeriksaan untuk satu orang diperkirakan hanya butuh waktu sekitar 30 menit. Praktiknya, pemeriksaan satu orang bisa memakan waktu hingga dua jam. Lamanya waktu salah satunya karena masih banyak kendala di lapangan.
"Makanya kami simulasi dulu. Nanti provinsi akan nge-list (mendata kendala, Red) nanti. Baru akan ketemu format yang pas untuk semuanya," lanjut Dwi sembari menyebut hingga saat ini masih belum ada formula yang pas dalam pelaksanaan PKG.
Apa saja kebutuhan penunjang untuk melaksanakan program Presiden Prabowo Subianto itu? Menurut Dwi masih banyak yang dibutuhkan. Namun, yang paling utama terkait sarana prasarana. Ada sejumlah peralatan baru yang dibutuhkan puskesmas. Salah satunya alat pemeriksaan darah.
Di tahap awal, PKG baru dilaksanakan di puskesmas yang menjadi fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP). Total ada sembilan puskesmas yang akan membuka layanan mulai Senin (10/2) lusa.
"Sebenarnya (PKG, Red) itu general check up tapi memakai metode skrining yang sama seperti diterapkan di ILP (integrasi layanan primer yang menerapkan kluster, Red)," ungkapnya.
Dengan metode skrining, masyarakat harus lebih dulu menjawab beberapa pertanyaan sebelum pemeriksaan. Selanjutnya, pemeriksaan lanjutan dilakukan sesuai indikasi hasil skrining.
"Ini kan dianggap pasien sehat. Tapi kalau ternyata ada keluhan, ya diperlakukan seperti pasien sakit," terang Dwi.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira