KEDIRI, JP Radar Kediri- Tak hanya harus melayani 144 daftar penyakit yang sesuai aturan BPJS Kesehatan tidak ter-cover di rumah sakit, kini beban puskesmas lebih berat lagi. Sebab, pemahaman masyarakat tentang kegawatdaruratan masih minim.
Akibatnya, tidak sedikit masyarakat yang tidak dalam kondisi gawat dan darurat tetap berobat ke unit gawat darurat (UGD).
Untuk diketahui, dengan kebijakan optimalisasi penanganan 144 jenis penyakit di faskes pertama, otomatis puskesmas dan praktik dokter pribadi menjadi jujukan.
Terutama puskesmas dengan layanan 24 jam yang menyediakan UGD. Di Kota Kediri, layanan 24 jam hanya tersedia di tiga puskesmas.
Yaitu di Puskesmas Ngletih, Puskesmas Balowerti, dan Puskesmas Mrican. UGD di tiga puskesmas itulah yang sering jadi jujukan pasien.
Plt Kepala Puskesmas Balowerti dr Susana Dewi mengatakan, poin pelayanan kesehatan imbas aturan itu terkait pemahaman kegawatdaruratan masyarakat. Sebab, tidak sedikit pasien datang ke UGD 24 jam namun kondisinya belum gawat darurat.
“Terkadang ada yang nggak mau ngantre pagi, (pasien, Red) datangnya sore (ke UGD, Red). Padahal dia tidak termasuk gawat darurat,” ujarnya memberi contoh.
Kasus pasien yang mengakses perawatan di UGD lebih kompleks lagi. Meski demikian, fakta tentang pasien yang tidak dalam kondisi gawat dan mengakses UGD tetap banyak ditemui.
“Mestinya kalau tidak termasuk gawat darurat, ya datangnya besok (di poli, Red),” sambungnya.
Perempuan yang juga menjabat kepala Puskesmas Kota Utara itu mencontohkan beberapa keluhan yang kadang dianggap gawat darurat oleh pasien.
Mulai dari nyeri ulu hati, dyspepsia, mual dan muntah. Kemudian, demam tinggi, hingga vertigo.
“Kalau ada kasus gawat darurat, mesti ditangani di FKTP. Pasti nanti dilakukan triase. Kalau memang bukan gawat diarahkan ke poli,” tandas Susana.
Baca Juga: Cegah ODGJ Ngamuk, Ini yang Dilakukan Posyandu Jiwa Desa Jabang Kediri untuk 27 Orang Warganya
Terkait 144 jenis penyakit yang diupayakan tuntas di FKTP, dia mengklaim seluruhnya bisa ter-cover di puskesmas.
Namun, dengan adanya kriteria TACC (time, age, complication, comorbidity), memungkinkan FKTP merujuk pasien ke faskes tingkat lanjutan untuk 144 jenis penyakit tersebut.
Sementara itu, meski banyak pasien yang mengakses UGD, menurut Susana untuk layanan rawat inap di Puskesmas Balowerti masih belum meningkat signifikan. Jika nantinya 10 bed yang ada di sana penuh, menurutnya tetap bisa dilakukan pengaturan.
“Yang penting diedukasi, pasiennya mau tidak karena memang kapasitas (terbatas, Red),” terang Susana sembari menyebut jika bed untuk pasien rawat inap penuh, mereka masih bisa menggunakan tempat tidur di sarana Pelayanan Obstentri Neonatal Emergency Dasar (PONED).
Terpisah, Umi Salamah, 55, pasien yang kemarin berobat di Puskesmas Ngletih berbagi pengalaman tentang pelayanan UGD.
Beberapa waktu lalu, dia mengaku mengantarkan anaknya dengan keluhan diare selama beberapa hari ke UGD.
“Karena malam (sakitnya, Red) akhirnya ke UGD-nya sini (Puskesmas Ngletih, Red). Tapi kan sifatnya hanya pertolongan. Jadi cuma dikasih obat, terus kalau belum sembuh, besok paginya diminta ke poli periksa ke dokter,” jelasnya.
Meski ada UGD di puskesmas, untuk kondisi yang lebih darurat Umi tetap memilih berobat ke rumah sakit.
Misalnya saat saudaranya mengeluhkan sesak napas, langsung dia bawa ke UGD rumah sakit.
“Paling nggak bisa (di UGD puskesmas). Karena alatnya nggak ada. Akhirnya lnagsung ke rumah sakit,” jelas Umi.
Sebelumnya diberitakan, aturan tentang pelayanan 144 jenis penyakit yang harus dioptimalkan pengobatannya di FKTP, dipastikan akan memperberat beban kerja puskesmas.
Tiga puskesmas yang menyediakan pelayanan 24 jam rawan membeludak. Pasalnya, ada ratusan ribu warga Kota Kediri yang akan mengakses layanan mereka saat tidak bisa dilayani di unit gawat darurat (UGD) rumah sakit.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri dr Muhammad Fajri Mubasysyir pun menyebut jika tiga puskesmas rawat inap mampu melayani seluruh 144 daftar penyakit yang tidak dilayani RS.
“Tapi memang ada beberapa yang perlu dibenahi. Seperti penambahan alat yang modern,” ujarnya sembari menegaskan pihaknya masih mendata kebutuhan alat-alat kesehatan untuk menunjang pelayanan di FKTP.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah