JP Radar Kediri - Rumah-rumah itu berjajar tepat di tepi sungai. Bangunannya berdiri di bantaran.
Yang memisahkan dengan aliran sungai hanyalah pondasi rumah yang menjadi satu dengan dinding sungai.
Dari dinding rumah-rumah itu menyembul pipa-pipa paralon. Berada di atas sungai. Fungsinya, sebagai pembuangan limbah rumah tangga.
Termasuk limbah kamar mandi seperti tinja dan air bekas cucian.
Tentu saja limbah-limbah itu langsung menuju aliran sungai ketika keluar dari pipa. Menjadikan sungai tersebut sebagai septic tank.
“Di permukiman padat, tidak sedikit yang langsung diarahkan ke sungai seperti itu,” terang Endang Pertiwi.
Wanita ini adalah aktivis lingkungan hidup yang getol mengedukasi masyarakat soal kebersihan lingkungan.
Baca Juga: Kerja Sama dengan Peternak Sapi Pujon, Makan Bergizi Gratis di Pare Kediri Ada Menu Susu
Endang tak sekadar menuding. Faktanya, banyak permukiman seperti itu. Terutama yang berada di dekat sungai.
Baik yang besar seperti Brantas maupun yang kecil seperti Sungai Kresek. Dia juga melihat sendiri ketika melakukan bersih-bersih sungai di salah satu kelurahan.
“Dampaknya tentu signifikan ketika limbah rumah tangga dibuang langsung ke sungai. Apalagi Sungai Brantas hilirnya masih dimanfaatkan, bahkan dikonsumsi,” ujarnya mengingatkan.
Memang, Endang melanjutkan, hampir semua rumah di permukiman yang jauh dari sungai sudah memiliki septic tank.
Problemnya, fasilitas pembuangan limbah manusia itu tak memiliki tata kelola yang sesuai aturan. Jarak dengan sumur tak ada 10 meter seperti yang disyaratkan.
“Misalnya saja di rumah saya, dulu di sekitar sumur belum ada bangunan. Sekarang banyak rumah yang mepet dengan sumur itu. Kemudian membuat septic tank di dekatnya. Akhirnya tercemar airnya. Harus membuat yang baru, jauh dari tempat limbah,” urainya.
Belum lagi, masih banyak masyarakat yang belum paham dengan standar sanitasi yang aman. Seperti contoh, tidak pernah melakukan pengurasan septic tank.
Baca Juga: Akhirnya Perusahaan di Jongbiru Kediri Ini Menemui Keluarga Pekerja yang Mengalami Kecelakaan Kerja
Padahal, sumber air dan sungai merupakan masa depan masyarakat. Jika sumber air di rumah-rumah warga tercemar, akan membuat mereka bergantung pada perusahaan penyedia jasa air.
“Air dari sumber semakin berkurang. Pada akhirnya ya kita kembali lagi ke air sungai (air permukaan, Red),” tandasnya.
Peringatan Endang tersebut sudah terbukti saat ini. Kondisi sumber air di Kota Kediri tak bisa disebut baik-baik saja.
Itu dibuktikan dari pengujian air yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri pada 2024.
Yang menyebutkan dua dari sembilan sumur di pasar-pasar Kota Kediri sudah tercemar bakteri Escherichia coli E-coli.
Dua sumur itu ada di Pasar Bandar dan Pasar Centong Bawang. Yang kandungan E-colinya di atas ambang batas.
Baca Juga: Peternak di Kediri Mau Vaksin setelah Sapi Ternaknya Seharga Rp 12 Juta Mati Kena PMK
Berdasarkan Permenkes 492/2010 tentang persyaratan kualitas air minum, batas maksimum E-coli dalam air minum adalah 0/100 ml. Sedangkan sumur di Pasar Bandar 5/100. Dan di Pasar Centong 16/100.
Di Sungai Brantas sebagai muara seluruh sungai-sungai dalam kota pun kondisinya juga nyaris tak baik-baik saja.
Berdasarkan pantauan status mutu air melalui situs Onlimo Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kualitas air selama seminggu terakhir fluktuatif dari tercemar ringan hingga sedang.
Jika parameter tercemar sedang adalah 5-10, pada 12 Januari lalu angkanya bahkan menyentuh 8,19.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah