KEDIRI, JP Radar Kediri - Para peternak yang semula menolak vaksinasi karena khawatir membahayakan hewan peliharaannya, kini justru ramai-ramai meminta vaksin.
Mereka kapok menolak pemberian vaksin setelah sapinya mati akibat penyakit mulut dan kuku (PMK).
Seperti diakui Sabar, warga Dusun Gejek, Sumberejo, Grogol. Peternak berusia 60 tahun itu hanya bisa pasrah setelah sapi indukan berusia empat tahun miliknya mati karena PMK kemarin (17/1). “Harganya (sapi yang mati, Red) Rp 12 juta,” kata Sabar.
Virus PMK tidak hanya menjangkit induk sapi. Melainkan anak sapi diduga juga terpapar. Indikasinya, selama beberapa hari sudah tidak mau makan dan lemas.
Lebih jauh Sabar mengaku tidak pernah memberi vaksin PMK hewan ternak miliknya. Alasannya dia mengaku takut. Sebab, banyak warga yang bilang jika ternak divaksin justru akan sakit.
Setelah satu ekor sapi miliknya mati akibat PMK, dia baru menyadari pentingnya vaksinasi untuk mencegah PMK. “Sudah kapok, ini ingin divaksin biar tidak ikut mati,” akunya.
Untuk diketahui, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri kembali menggenjot vaksinasi penyakit mulut dan kuku (PMK).
Pencegahan penularan kembali dimaksimalkan setelah mereka menerima bantuan vaksin dari Kementerian Pertanian (Kementan). Kali ini, sasaran yang diutamakan adalah peternak kecil.
Plt Kepala DKPP Kabupaten Kediri drh Tutik Purwaningsih melalui Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Kesehatan Masyarakat Veteriner drh Yhuni Ismhawati mengatakan, Rabu (15/1) lalu pihaknya menerima 7.050 dosis vaksin PMK dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementan.
Setelah menerima vaksin tersebut, menurut Yhuni pihaknya langsung menggenjot vaksinasi. Dimulai Kamis (16/1) lalu, hingga kemarin total ada 814 dosis yang sudah disuntikkan ke sapi warga.
“Kami prioritaskan (vaksinasi, Red) untuk sapi peternak kecil,” ungkap Yhuni sembari menyebut untuk peternak besar diminta membeli vaksin sendiri.
Pantauan media ini, kemarin DKPP kembali melakukan vaksinasi dengan menyasar peternak di Desa Gambyok, Grogol. Total ada lima tim yang diterjunkan ke sana.
Dari ribuan dosis vaksin yang diterima, DKPP menargetkan penyuntikan vaksin bantuan itu bisa selesai 30 Januari nanti. Dengan jumlah sapi potong mencapai 250 ribu ekor, diakui Yhuni jika vaksin yang mereka terima masih jauh dari kata cukup.
Karenanya, pemkab akan tetap melakukan pengadaan vaksin mandiri.
“Karena populasi ternak cukup banyak. Baik sapi, kambing, maupun domba. Dan itu semua merupakan target vaksinasi,” jelas Yhuni sembari menegaskan DKPP juga tetap mengajukan bantuan vaksin.
Sesuai rencana sebelumnya, Pemkab Kediri tetap akan membeli 50 ribu dosis vaksin untuk memutus penyebaran PMK di Kabupaten Kediri. Anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 1,5 miliar dari belanja tidak terduga (BTT).
Agar bisa menggunakan anggaran darurat itu, menurut Yhuni nantinya akan dilakukan pengalihan dari BTT ke anggaran DKPP.
“Kenapa diambil dari situ (BTT, Red) karena kebutuhan mendesak untuk mengatasi PMK,” tuturnya berharap anggaran bisa mulai dicairkan Februari nanti.
Seperti diberitakan, sejak Desember hingga Kamis (16/1) lalu, total ada 797 ekor sapi yang terkena PMK. Sebanyak 27 ekor sapi di antaranya mati. Kemudian, 128 ekor sapi dinyatakan sembuh. Sisanya, ada 638 ekor sapi yang masih sakit.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah