Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ini Beberapa Catatan Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Kediri Hari Kedua, Mulai Distribusi Lambat hingga Semangka Terasa Kecut

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Rabu, 15 Januari 2025 | 15:52 WIB
LAHAP: Siswa SLB Pelita Hati di Desa Padangan, Kayenkidul menyantap menu makan bergizi gratis hari kedua. Jika di hari pertama (13/1) paket makanan baru datang pukul 11.00, kemarin makanan sudah diter
LAHAP: Siswa SLB Pelita Hati di Desa Padangan, Kayenkidul menyantap menu makan bergizi gratis hari kedua. Jika di hari pertama (13/1) paket makanan baru datang pukul 11.00, kemarin makanan sudah diter

KEDIRI, JP Radar Kediri- Sejumlah catatan mewarnai program makan bergizi gratis (MBG) di Kabupaten Kediri. Jika kemarin relatif lebih lancar, hari pertama Senin (13/1) lalu didapati siswa yang tidak kebagian makanan karena pembagian terlalu siang.

Ada pula buah semangka yang rasanya kecut karena terlalu lama berada di tempat tertutup.

Hal tersebut terjadi di Sekolah Luar Biasa (SLB) Pelita Hati, Dusun Ringinsari, Desa Padangan, Kayenkidul.

Kepala SLB Pelita Hati Suhermi mengatakan, Senin (13/1) lalu sekolahnya baru mendapat jatah paket MBG sekitar pukul 11.00.

“Siswa yang datang pagi pulangnya lebih dulu. Jadi tidak kebagian makanan,” kata perempuan yang akrab disapa Hermi itu tentang siswa kelas terapi yang belajarnya dengan sistem sif tersebut.

Tidak hanya sejumlah siswa yang luput dari jatah MBG, menurut Hermi di SLB juga didapati buah semangka yang rasanya mulai kecut. Hal tersebut diduga karena buah terlalu lama berada di tempat yang tertutup.

“Karena buah potongan itu kan mudah rusak. Persiapannya pagi, jadi kalau agak siangan jadi kecut,” lanjut Hermi yang bersyukur karena dalam distribusi kemarin siswa mendapat buah jeruk yang dalam kondisi masih lengkap dengan kulitnya. Sehingga, tidak mudah basi.

Dikatakan Hermi, di SLB ada beberapa kategori siswa berkebutuhan khusus. Karenanya, makanan mereka kadang tidak bisa disamakan dengan siswa pada umumnya.

Terlepas dari beberapa evaluasi tersebut, Hermi mengaku senang mendapat program MBG. Sebab, anak-anak mengonsumsi makanan gratis itu dengan lahap.

“Makanannya habis semua,” tutur Hermi sembari meneteskan air mata haru.

Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, pada hari kedua kemarin anak-anak SLB terlihat antusias saat para guru mengantar paket makanan ke dalam kelas. Sebagian mengambil makanan sendiri ke ruang guru.

Beberapa siswa juga terlihat senang meski mereka tidak bisa makan sendiri alias harus disuapi orang tuanya.

Binti Yuliana, 44, orang tua siswa asal Desa Kapi, Kecamatan Kunjang, yang kemarin menyuapi anaknya juga menyambut gembira program MBG.

Meski demikian menurutnya harus ada penyesuaian menu untuk siswa SLB. Dia mencontohkan menu untuk anaknya yang menderita autis dan cerebral palsy.

“Tidak bisa sembarangan. Seperti lele harus dihindari karena jadi hiperaktif. Telur kalau terlalu sering juga seperti itu,” paparnya.

Mohammad Sholeh, 21, salah satu siswa tuna grahita mengaku senang karena mendapat paket makan gratis setiap pagi.

“Rasanya alhamdulillah enak. Yang penting sehat, enak, halal. Kita jangan buang-buang nasi, Insyaallah berkah,” tuturnya sambil tersenyum.

Terpisah Komandan Koramil (Danramil) Pagu Kapten Inf Murtono yang dikonfirmasi tentang pengiriman makanan di sejumlah sekolah yang terlalu siang pada Senin (13/1) lalu membenarkannya.

Hal tersebut menurut Murtono karena sekolah sasaran mencapai puluhan. Sehingga, pengiriman dilakukan bertahap.

Temuan itu menurut Murtono langsung dikoordinasikan dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Kemarin sore (13/1) saya sampaikan agar diperbaiki lagi sistem dropping-nya. Alhamdulillah sudah dilaksanakan pagi ini (14/1). Hari ini (kemarin) diterima pukul 08.15, lengkap dan aman,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala SPPG Kayen Kidul Dhiyanti Nawang Palupi juga mengakui keterlambatan pengiriman di hari pertama. Dia beralasan keterlambatan karena lokasi sekolah yang tersebar dan berjauhan.

Sesuai arahan dari pusat, radius pengiriman MBG untuk satu dapur di bawah lima kilometer (km). Namun, di Kayenkidul radiusnya sampai 14 km.

“Kalau memakai radius lima kilometer, hanya sedikit yang menerima manfaat. Belum sampai tiga ribu (paket MBG, Red) karena satu sekolah dengan sekolah lain jaraknya jauh,” jelas Dhiyanti ditemui di dapur SPPG Kayenkidul kemarin.

Jika di hari pertama sempat ada kendala, menurutnya pada hari kedua kemarin relatif lancar. Tentang beberapa menu untuk siswa SLB yang harus disesuaikan, Dhiyanti mengaku di SPPG sudah ada ahli gizi. Namun, dia memastikan ke depan akan tetap dievaluasi.

“Ke depan juga akan ada koordinasi ahli gizi lagi,” akunya.

Seperti diberitakan, sedikitnya ada 3.101 siswa berbagai jenjang dari 26 sekolah di Kecamatan Kayenkidul yang menerima paket MBG sejak Senin (13/1) lalu.

Sedianya, MBG juga dilaksanakan di Kecamatan Pare. Namun, hingga kemarin pembagian makanan di sana belum bisa dilakukan karena dapur belum siap.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#Mbg #radar kediri #slb #jawapos #Distribusi Lambat #Makan Bergizi Gratis