KEDIRI, JP Radar Kediri-Kabar tentang rencana kenaikan retribusi pasar tahun 2025 membuat pedagang resah. Mereka berharap kenaikan retribusi lapak dan parkir itu ditunda. Alasannya, kondisi perekonomian yang lesu membuat penjualan turun.
Untuk diketahui, selain retribusi sewa kios dan los, retribusi juga dikenakan untuk parkir. Karenanya, selain pedagang yang akan terdampak, pengunjung pasar pun akan ikut merasakan dampaknya.
Fatkhur Rozi, 29, pedagang sandal dan sepatu di Pasar Wates mengatakan, beberapa waktu lalu Dinas Perdagangan (Disdag) Kabupaten Kediri sudah melakukan sosialisasi terkait peraturan daerah (perda) retribusi yang baru. “Katanya realisasi kenaikan antara pertengahan 2025 atau 2026 nanti,” kata pria yang sehari-hari berkacamata itu.
Informasi yang dihimpun koran ini, retribusi los dengan luas 1,25x2,75 meter dipatok Rp 2.500 per hari. Ke depan, tarif akan naik menjadi Rp 3 ribu per hari. “Kalau punya saya ini ada tiga los, awalnya Rp 7,5 ribu jadi Rp 9 ribu,” akunya.
Fatkhur menyebut kenaikan retribusi los dan kios itu tidak tinggi. Namun, saat ini kondisi ekonomi sedang tidak baik. Sehingga omzet yang didapatkan pedagang pun terus turun.
Penurunan omzet, menurut Fatkhur juga karena diterapkannya retribusi parkir untuk pembeli yang masuk ke pasar. Akibatnya, pembeli jadi malas untuk masuk ke pasar. Akibatnya, jumlah pengunjung berkurang.
Apalagi, ke depan retrubusi parkir juga akan naik. Di Pasar Wates yang termasuk tipe A, akan naik menjadi Rp 3 ribu. Adapun saat ini hanya Rp 2 ribu.
Untuk pasar dengan tipe A1, seperti Pasar Ngadiluwih, tarifnya akan lebih mahal lagi. Yakni, Rp 5 ribu untuk sepeda motor. “Kalau seperti itu otomatis pembeli akan lebih enggan karena harga karcis yang tinggi,” lanjutnya.
Dikatakan Fatkhur, saat Pasar Wates baru pertama kali diresmikan dan digunakan, pengunjung belum dikenakan retribusi parkir. Hal tersebut membuat banyak pembeli yang berbelanja ke pasar. Dia pun bisa mengumpulkan laba kotor hingga Rp 200 ribu.
Namun, saat retribusi parkir diterapkan, jumlah pembeli langsung menurun. Dalam kondisi normal dan ramai, dia hanya bisa mendapat laba kotor Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu per hari. “Kalau sepi sekitar Rp 80 ribu. Itu kotor lho,” keluhnya.
Keluhan serupa juga diungkapkan oleh Mutiah, pedagang peracangan di Pasar Wates. Dia mengaku keberatan dengan wacana kenaikan retribusi pasar. “Kalau nambah lagi tentu keberatan. Karena posisi lagi sepi,” paparnya.
Dengan kondisi tersebut, Mutiah berharap pemkab bisa mempertimbangkan kembali rencana menaikkan tarif retribusi. Terutama untuk retribusi parkir.
Terpisah, Kepala Disdag Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih membenarkan adanya wacana itu. Namun, menurutnya masih di tahap sosialisasi awal. “Masih kami sosialisasikan perdanya,” terang Tutik.
Adapun untuk realisasinya, menurut Tutik masih lama. Salah satunya, mereka masih menunggu peraturan bupati (perbup) tentang teknis pelaksanaan perda. Setelah perbup tuntas pun, menurutnya belum akan langsung diterapkan. “Akan diterapkan secara bertahap sambil terus dievaluasi,’ tegasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel
Editor : Anwar Bahar Basalamah