KEDIRI, JP Radar Kediri- Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) mengalami kenaikan dalam dua bulan terakhir. Untungnya, stok daging untuk Natal dan Tahun Baru (Nataru) relatif aman untuk wilayah Kabupaten Kediri.
“Ada peningkatan (kasus PMK) yang terjadi,” terang Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) drh Tutik Purwaningsih melalui Kabid Kesehatan Hewan dan Kesmavet drh Yhuni Ismhawati.
Yhuni kemudian menyodorkan data. Dalam dua bulan terakhir setidaknya terdapat 22 kasus PMK di Kabupaten Kediri. Penyebabnya adalah pancaroba. Membuat kondisi hewan tidak stabil. Sehingga penyebaran penyakit, terutama PMK, gampang terjadi.
Dia meminta agar peternak terus tertib dan memperketat lalu lintas hewan ternak. Untuk meminimalisasi penyebaran PMK. Selain itu juga harus memperketat kebersihan dan kesehatan hewan ternaknya.
“Jual beli hewan juga harus ada surat keterangan kesehatan hewan (SKKH, Red). Ini pembuktian kesehatan hewan dan untuk meyakinkan pembeli bahwa ternak sehat,” terangnya sambil berharap konsumen selektif saat membeli daging.
Untungnya, stok daging menjelang Nataru dalam kondisi aman. Apalagi, permintaan daging juga belum naik secara signifikan.
“Untuk pekan ini belum signifikan. Masih aman. Yang (permintaan) naik telur saja. Lainnya masih stabil,” terangnya. Menurut Yhuni, walaupun kemungkinannya ada peningkatan permintaan daging jelang nataru, stok masih aman.
Untuk diketahui, total populasi sapi di Kabupaten Kediri ada 461.074 ekor. Rinciannya 234.431 ekor sapi potong, 12.094 ekor sapi jantan, dan 10.917 sapi perah.
Sementara itu, di Kota Kediri, permintaan daging sapi di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) juga belum mengalami kenaikan. Bahkan, cenderung turun bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Hampir satu dua bulan ini (mengalami penurunan),” terang Kepala UPT RPH Kota Kediri Hariyanto.
Kini, rata-rata penyembelihan sapi di RPH hanya 15 ekor sehari. Padahal, saat Nataru tahun lalu bisa sampai 25 ekor per hari.
Apa penyebabnya? Paling utama adalah sulitnya mitra jagal mencari sapi. “Teman-teman kesulitan mencari sapi yang bagus. Jadi sekarang banyak jagal yang nggak menyembelih. Tapi hanya beli daging dari jagal yang lain,” bebernya.
Pembelian itupun berasal dari luar kota. Di antaranya dari Jombang dan Magetan. “Pelakunya (jagal) juga tetap itu-itu saja. Nggak signifikan untuk menyumbang permintaan daging yang banyak. Khususnya untuk bulan ini,” urai Hariyanto.
Dengan demikian, produk daging sapi yang beredar di pasar-pasar Kota Kediri tidak semuanya disuplai dari RPH. Tidak sedikit yang berasal dari luar kota. Termasuk Kabupaten Kediri.
“Seperti dari Magetan. Itu justru yang banyak. Kalau dari RPH sini malah sedikit. Karena jagal-jagal yang ada di sini kesulitan mencari sapi. Kalaupun ada, tapi harganya mahal,” tandasnya, sembari menyebut harga satu ekor sapi mencapai Rp 20 juta.
Hal itu membuat dia memperkirakan tidak akan ada kenaikan signifikan dalam permintaan daging di RPH. Setidaknya hingga mendekati pergantian tahun. Terlebih dengan banyaknya jagal yang beralih langsung membeli daging dari luar kota.
“Populasi sapi sekarang menurun drastic, imbas kena penyakit kemarin itu. Dan sekarang peternak juga mulai memelihara lagi. Jadi jagal itu saingan sama peternak yang mulai mencari sapi untuk dipelihara,” bebernya.
Karena sulit mendapatkan sapi, beberapa jagal mulai mendatangkan sapi dari luar negeri. “Masih ada yang mengajukan Brahman Cross dari Australia,” ungkapnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah