Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sosok Yono Heryadi, Plt Kadis PUPR Kota Kediri, Seorang Arsitek yang Kantongi STRA

Ayu Ismawati • Jumat, 8 November 2024 | 17:08 WIB
Yono Heryadi berada di Masjid Al Khalid, Kelurahan Semampir, Kota Kediri yang merupakan hasil rancangannya.
Yono Heryadi berada di Masjid Al Khalid, Kelurahan Semampir, Kota Kediri yang merupakan hasil rancangannya.

KEDIRI JP Radar Kediri -Sembari menyusuri setiap sudut Masjid Al-Khalid, Yono Heryadi menyingkap berbagai cerita dan filosofi bangunan tempat ibadah di Kelurahan Semampir, Kota Kediri itu. Setiap sudut dan elemennya punya makna dan maksud beragam. Termasuk bagian atap yang tidak memiliki kubah.

“Karena memang nggak ada keharusan masjid punya kubah. Jadi atapnya saya buat seperti gambaran orang bersimpuh ke arah kiblat,” jelas pria yang juga pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Kediri ini.

Masjid di Jalan Semampir 1 itu menonjolkan aksen kayu dan bata ekspose. Kental dengan gaya etnis sekaligus modern.

Yang menarik, sang arsitek-Yono Heryadi-merancang agar bangunan tersebut ramah lingkungan sekaligus ‘merakyat’. Yang tak merogoh kocek terlalu dalam untuk biaya perawatan.

“Tidak menggunakan AC sama sekali. Sebagai gantinya, saya beri bukaan yang banyak. Jadi, sebenarnya, bangunannya pun kecil,” urainya.

Banyaknya jendela kaca yang bisa dibuka lebar itu tak hanya memuat kepentingan lingkungan saja. Juga agar tempat ibadah yang juga ruang publik itu ramah bagi semua orang.

“Kalau gini kan, orang dari luar bisa lihat. Oh, ada orang salat. Akhirnya jadi ikut salat,” sebut pria kelahiran Kabupaten Kediri ini.

Aktif menjadi arsitek sejak 2009, Yono memiliki ciri khas pada setiap karyanya. Yaitu selalu mengedepankan aspek lingkungan.

 Lewat karya-karyanya, dia ingin menunjukkan bahwa bangunan yang unggul secara estetika juga masih bisa nyaman dan efisien. Yang lebih penting lagi, budget-nya juga tidak harus selalu mahal.

“Dan di pemerintah juga ada namanya peraturan bangunan hijau. Jadi kita harus mulai mengonsep bagaimana, misal, penggunaan AC tidak dominan.

Atau penggunaan energi terbarukan, itu yang saya suka,” beber pria yang juga jadi kepala Bagian Pengadaan Barang dan Jasa Pemkot Kediri ini.

Meski disibukkan dengan urusan pemerintahan, Yono masih sempat menyisihkan waktu sebagai seorang arsitek. Tablet dan stylus pen jadi senjatanya yang tak luput dia bawa kemanapun.

Baca Juga: Sanggahan 32 Peserta PPPK Kabupaten Kediri Dinyatakan Memenuhi Syarat

Selain itu, alumnus Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang itu juga seorang arsitek yang sudah mengantongi surat tanda registrasi arsitek (STRA).

Saat ini, belum banyak praktisi arsitektur yang resmi diakui untuk melakukan praktik di Indonesia. Bahkan, hingga tulisan ini diterbitkan, di Kota Kediri baru tiga orang yang mengantongi sertifikasi yang dikeluarkan oleh Dewan Arsitek Indonesia itu.

“IAI (Ikatan Arsitek Indonesia, Red) menyatakan ini tidak ideal (dengan rasio jumlah penduduk Kota Kediri). Makanya sekarang IAI punya misi besar mendorong teman-teman lulusan arsitek agar segera mengurus kompetensi,” tandasnya.

Dia menyebut, semakin banyak populasi arsitek yang tersertifikasi, semakin besar pula kontribusi di masyarakat. Termasuk pemerintahan.

Sebab, baginya arsitek tak ubahnya profesi yang mengabdi dengan masyarakat. Stigma bahwa arsitek hanya melayani orang-orang kaya juga ingin dia tepis.

Menjalankan UU 6/2017 tentang arsitek itu juga menurutnya penting untuk menjamin praktisi bisa melayani masyarakat dalam mendapatkan bangunan. Yang tidak harus mahal, tapi terjamin faktor kenyamanan, keamanan, dan keberlanjutannya.

“Saat ini, anggapannya kalau nggak mahal, ya nggak arsitek. Padahal enggak. Arsitek itu bukan hanya melayani orang kaya. Tapi semua masyarakat yang membutuhkan desain rumah atau hunian yang sesuai keinginannya,” paparnya.

Dia mencontohkan, beberapa aspek bangunan bisa menggunakan elemen yang lebih murah dan mudah didapatkan.

Seperti saat dia membuat bangunan dua lantai dengan material utama dari batang pohon kelapa atau glugu. Itupun, dia dapatkan dari kebunnya sendiri.

Bangunan miliknya sendiri itu menjadi bagian dari eksperimennya dalam membuktikan ketahanan bangunan yang dibuat dari material-material lokal dan ramah lingkungan. “Ada hampir 80 persen material dari glugu,” ujarnya.

Ke depannya, dia pun berharap semakin banyak bangunan yang mengusung konsep lingkungan. Sebab, dengan cepatnya perkembangan zaman, ruang-ruang resapan pun berangsur tergantikan dengan bangunan-bangunan.

Lebih-lebih di daerah perkotaan dengan tingkat pertumbuhan penduduknya yang amat pesat.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #Beragam #masjid #filosofi #jawa pos