KEDIRI, JP Radar Kediri-Pasangan Hanindhito Himawan Pramana-Dewi Mariya Ulfa meraup suara sebesar 79,6 persen.
Hasil tersebut merupakan hasil survei yang dirilis oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang terbaru.
Dalam survei yang digelar pada 12-17 Oktober tersebut, mereka melakukan dua teknik. Yakni, lewat pertanyaan terbuka dan pilihan tertutup.
Dari keduanya, pasangan Dhito-Dewi tetap lebih unggul dibanding pasangan Deny Widyanarko-Mudawamah.
Untuk diketahui, total sampel survei sebanyak 1.210 orang yang dipilih secara acak. Responden adalah warga Kabupaten Kediri yang sudah berumur 17 tahun atau lebih.
Margin of error atau toleransi kesalahan dalam survei tersebut sekitar 2,9 persen.
Dalam rilisnya, Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani mengatakan, Dhito mendapat 60,9 persen dukungan lewat pertanyaan terbuka (top of mind atau jawaban spontan).
Dengan teknik yang sama, Deny mendapat 8,6 persen dukungan. Sedangkan Mudawamah dan Dewi hanya mendapatkan 0,1 suara.
“Masih ada 29,9 persen warga yang belum dapat memilih secara spontan,” tulis Deni dalam rilisnya.
Selanjutnya, dalam pemilihan tertutup menggunakan simulasi surat suara, dukungan yang diterima pasangan Dhito-Dewi lebih tinggi lagi.
Mereka meraup dukungan hingga 79,6 persen. Sedangkan dukungan untuk pasangan Deny-Mudawamah 13,0 persen. Sebanyak 7,5 persen sisanya menjawab tidak tahu atau tidak menjawab.
Lebih jauh Deni menyebut, dukungan tinggi yang didapat Dhito-Dewi tidak terlepas dari popularitas mereka.
Dari hasil survei, Dhito dikenal oleh 93 persen warga Kabupaten Kediri. Sedangkan Deny hanya dikenal oleh 48 persen masyarakat.
“Selain lebih dikenal, tingkat penerimaan (likeability) Hanindhito juga lebih positif dibanding Deny Widyanarko. Hanindhito 95 persen. Deny 65 persen,” terang Deni.
Selain faktor popularitas, Deni menyebut elektabilitas calon juga terkait evaluasi pemilih terhadap kinerja petahana.
Sesuai hasil survei, sebanyak 18 persen mengaku sangat puas. Kemudian, 72 persen mengaku cukup puas dengan kinerja Dhito selama menjabat Bupati Kediri.
Hanya delapan persen yang mengaku kurang puas. “Yang tidak punya sikap sekitar dua persen.
Kepuasan warga yang tinggi ini turut mendorong elektabilitas Hanindhito sekarang ini,” papar Deni.
Meski pasangan Dhito-Dewi lebih unggul, Deni memperkirakan persentase dukungan kepada mereka masih bisa berubah.
Sebab, pelaksanaan pilkada masih cukup lama atau pada 27 November nanti. ”Elektabilitas masing-masing calon masih bisa berubah.
Tergantung efektivitas kerja sosialisasi yang dilakukan hingga pilkada diadakan bulan depan”, tandasnya.
Terpisah, Pengamat Sosial Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Elis Yusniyawati mengatakan, incumbent selalu punya modal lebih besar dari lawannya.
Sebab mereka sudah memiliki pengalaman menjabat. Sehingga masyarakat lebih mengenal lewat program-program yang dilaksanakan.
“Program pemerintah yang masif dan informasi di media terkait kebijakan yang diambil selama menjabat, memungkinkan petahana memiliki waktu lebih banyak untuk berinteraksi kepada masyarakat,” terangnya.
Perempuan yang akrab disapa Elis itu menyebut, modal utama petahana adalah tingkat kepuasan masyarakat terhadap kepemimpinannya selama menjabat.
Jika tingkat kepuasan yang diberikan masyarakat nyaris sempurna, artinya keberadaan kepala daerah dinilai benar-benar bermanfaat.
Hal tersebut menurut Elis akan sangat berpengaruh saat pemilihan nanti.
“Hampir bisa dipastikan dengan popularitas yang tinggi dan acceptability yang tinggi elektabilitas, hampir bisa dipastikan dia bisa meraup suara yang tinggi juga.
Ini kalau itungan metode ya,” tegasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah