Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ada Peternak di Kediri yang Pakai Elpiji 3 Kilogram

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Selasa, 24 September 2024 | 19:02 WIB
CEK LAPANGAN: Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kediri mengecek pemakaian elpiji untuk penghangat ayam di kandang ternak. Tim masih mendapati peternak yang nekat menggunakan elpiji melon.
CEK LAPANGAN: Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kediri mengecek pemakaian elpiji untuk penghangat ayam di kandang ternak. Tim masih mendapati peternak yang nekat menggunakan elpiji melon.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Pemkab Kediri memasifkan monitoring dan evaluasi (monev) pemakaian elpiji di masyarakat.

Kemarin, tim dinas perdagangan (disdag) melakukan sidak ke sejumlah peternak di Kabupaten Kediri. Hasilnya, masih ada peternak yang memakai elpiji melon meski hal tersebut dilarang.

Salah satunya dilakukan oleh Mulyono. Peternak di Dusun Jambean, Desa Seketi, Kecamatan Ngadiluwih itu menggunakan elpiji kemasan tiga kilogram (kg) dan elpiji bright gas kemasan 5,5 kilogram untuk bahan bakar alat pemanas ayam ternaknya.

Untuk bisa menghangatkan lima ribu ekor ayam peliharaannya, dia mengaku menggunakan elpiji melon dan bright gas.

“Saya mix, yang pink (bright gas 5,5 kg) beli empat. Yang elpiji tiga kilogram antara empat sampai lima tabung,” kata Mulyono tentang pencampuran elpiji yang digunakannya.

Terkait penggunaan elpiji bersubsidi untuk peternakan, Mulyono mengakui jika hal tersebut dilarang. Namun, dia terpaksa melakukannya.

Sebab, jika menggunakan bright gas tanpa dicampur, keuntungan yang didapat hanya sedikit. Bahkan, dia berdalih tidak mendapat untung sama sekali. “Campuran (elpiji, Red) untuk meringankan operasional,” lanjutnya.

Lebih jauh Mulyono melanjutkan,  jika menggunakan bright gas, dalam seminggu dia harus mengeluarkan Rp 700 ribu. Jika menggunakan elpiji melon, pengeluarannya sekitar Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu. “Lebih irit, harganya kan lebih murah yang tiga kilogram,” tuturnya.

Dikatakan Mulyono, dirinya memilih menggunakan elpiji melon juga setelah melihat banyak peternak lain yang gulung tikar. Alasannya, karena biaya operasional tinggi.

Dengan fakta tersebut, Mulyono meminta pemerintah agar mengambil kebijakan baru. “Kalau memang tidak boleh menggunakan elpiji tiga kilogram ya (mohon, Red) diberi keringanan,” pintanya.

Sementara itu, jika Mulyono berdalih biaya operasionalnya membengkak, ternyata banyak juga peternak yang mematuhi aturan pemerintah.

Seperti dilakukan Abdul Aziz, 41. Warga Desa Slumbung, Kecamatan Ngadiluwih itu memilih tetap menggunakan bright gas meski biaya operasionalnya lebih besar.

“Dulu-dulu pakai hijau (elpiji melon, Red) tapi setelah ada sosialisasi pakai yang pink,” lanjutnya. Jika memakai elpiji bersubsidi, sekitar dua minggu dia harus mengeluarkan uang Rp 1 juta. Saat menggunakan bright gas, dia harus merogoh koceknya dua kali lipat alias dua juta.

Meski biayanya mahal, menurut pria yang akrab disapa Aziz itu tetap ada sisi positifnya. Yakni, efisiensi waktu. “Kalau pakai (elpiji, Red) tiga kilogram harus sering ngontrol. Selain itu untuk mendapatkan elpiji pink juga mudah,” lanjutnya.

 Baca Juga: Puluhan Pendaftar CPNS di Kabupaten Kediri yang TMS Mulai Mengajukan Sanggahan

Terpisah, Kepala Disdag Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih mengatakan, pihaknya terus melakukan monitoring penggunaan elpiji tiga kilogram. Hasilnya, hingga kemarin memang kelangkaan belum teratasi.

Fakta masih digunakannya elpiji bersubsidi oleh para peternak itu menurutnya akan disikapi. Termasuk pengakuan peternak yang harus mencampur elpiji subsidi dan non-subsidi karena terkait biaya produksi.

“Kami tetap mengimbau agar teman-teman peternak tidak menggunakan elpiji 3 kilogram,” tandas Tutik menegaskan jika elpiji bersubsidi tidak boleh digunakan di sektor peternakan.

Terkait permintaan regulasi baru agar biaya peternak tidak membengkak, Tutik memastikan Pertamina dan Pemkab Kediri akan berupaya mencarikan solusi. “Meski kondisi harga pakan tinggi, kami minta peternak tetap mematuhi regulasi,” pinta Tutik. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #elpiji #pemkab #bright gas #lpg #ayam #peternakan #Monitoring #jawa pos #disdag