KEDIRI, JP Radar Kediri-Sungai atau Kali Parung termasuk salah satu sungai produktif di Kota Kediri. Hingga kini, aliran sungai ini tidak hanya dimanfaatkan untuk pengairan saja. Melainkan dikelola menjadi objek wisata di beberapa titik di Kota Kediri. Kondisi tersebut bertolak belakang dengan Sungai Brantas dan Sungai Kresek yang terkontaminasi limbah.
“Pada 2018 dulu kami pernah uji kualitas air di sungai-sungai Kota Kediri. Sungai Parung ini yang paling bagus kualitasnya dibandingkan Sungai Kedak dan Sungai Kresek,” ujar Aktivis Lingkungan Hidup Endang Pertiwi sembari menyebut, salah satu faktornya karena sungai ini yang banyak menampung air dari mata air.
Di Kota Kediri, sungai ini melewati beberapa kelurahan di dua kecamatan. Seperti Kelurahan Jamsaren, Banaran, hingga Tosaren, Kecamatan Pesantren. Kemudian, di Kecamatan Kota seperti Kelurahan Kaliombo hingga bermuara di Sungai Brantas. Sungai ini pun membelah permukiman penduduk hingga area persawahan.
Kemarin (30/7), Jawa Pos Radar Kediri dan aktivis lingkungan dari Forum Kali Brantas melakukan pengujian kualitas air di salah satu titik di Sungai Parung. Tepatnya di Kelurahan Banaran, Kecamatan Pesantren. Berdasarkan Pergub Jatim 61/2010 tentang Penetapan Kelas Air pada Air Sungai, Sungai Brantas dan anak sungainya ditetapkan sebagai sungai kelas 2.
Pengujian dilakukan untuk melihat kadar fosfat, nitrit, nitrat, suhu, dan total dissolved solid (TDS). Hasilnya, kadar fosfat masih di atas baku mutu dengan angka 1,0 miligram/liter. Sedangkan baku mutu untuk air sungai kelas 2 hanya 0,2 mg/liter.
Sedangkan untuk indikator nitrat, nitrit, suhu, dan TDS masih di bawah baku mutu. Seperti nitrat yang tercatat 5 mg/l, serta nitrit yang tercatat 0 mg/l. Pada umumnya, nitrat dan nitrit menentukan kadar cemaran limbah organik dalam air.
“Yang melebihi baku mutu hanya fosfatnya. Kemungkinan bisa dari limbah rumah tangga. Kalau misal cemaran dari limbah organik, pasti nitrat dan nitritnya juga tinggi,” ujar Chandra Iman Asrori, aktivis lingkungan dari Forum Kali Brantas.
Meski kondisi perairannya cenderung lebih sehat, tidak menutup kemungkinan adanya cemaran dari sampah di dalam aliran sungai. Seperti yang kerap ditemui di bawah jembatan yang melintang di atas sungai.
Pemanfaatan Sungai Parung tidak hanya untuk kebutuhan pengairan saja. Di Kelurahan Kaliombo, Kecamatan Kota, masyarakat memanfaatkan Sungai Parung sebagai salah satu objek wisata. Yakni, memanfaatkan alirannya sebagai poin menarik dari taman dan kedai kopi. Di sana, terdapat taman dan kedai kopi yang dikembangkan oleh karang taruna setempat dengan pemandangan yang langsung mengarah ke Sungai Parung.
Ketua Karang Taruna Kelurahan Kaliombo Rendy Agung Santoso mengatakan, mengubah sungai menjadi atraksi wisata tidaklah mudah. Awalnya, sungai yang berada di bawah jembatan di Jl Tembus Kaliombo itu penuh dengan sampah. “Dulu sangat banyak sekali di kanan kiri sungainya. Apalagi popok sekali pakai dan kotoran rumah tangga,” ujar Rendy.
Sejak 2020 itu, karang taruna dan masyarakat setempat sedikit demi sedikit membersihkan sungai. Setiap kali selesai dibersihkan—lanjutnya—sungai kembali kotor. Hingga pada akhirnya bantaran sungai yang terbengkalai itu diubah menjadi taman.
“Pemanfaatan bantaran sungai itu yang akhirnya benar-benar bisa menghentikan orang buang sampah terus di situ,” sambungnya sembari menyebut, butuh puluhan kali kegiatan bersih sungai oleh masyarakat hingga bisa membuat sungai pulih kembali.
Selain menghidupkan bantaran sungai dengan membuat taman, papan larangan buang sampah di sungai juga dipasang di jembatan. Kawasan yang dulunya kumuh itupun kini jadi bersih dan ramai dengan aktivitas masyarakat.
“Minimal kalau tempatnya bersih dan terawat, orang-orang mau buang sampah di sungai itu mikir dua kali,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah