Kediri, JP Radar Kediri-Tak hanya Sungai Brantas dan Sungai Kedak saja yang tercemar. Sungai atau Kali Kresek yang familiar bagi warga Pesantren pun juga tercemar limbah rumah tangga (RT) dan industri. Selebihnya, sungai tersebut menjadi tumpuan saluran irigasi pertanian masyarakat.
Seperti di Kelurahan Tempurejo, Pesantren. Di salah satu aliran sungai yang berada di Jl. Durian, terdapat dam yang difungsikan untuk memecah air untuk dialirkan menuju area pertanian. Warga setempat pun menamai dam itu dengan Dam Kresek Tempurejo.
“Sampai sekarang masih aktif digunakan untuk pengairan sawah. Jadi di sana (Dam Kresek, Red) selain mengalir ke utara, airnya juga dialirkan ke barat menuju persawahan,” ujar Lurah Tempurejo Oryza Mahendrajaya.
Selain mengairi pertanian lewat anak-anak sungainya di Kecamatan Pesantren, Sungai Kresek juga mengalir jauh membelah padatnya Kota Kediri. Termasuk melewati kawasan industri hingga permukiman padat penduduk. Di antaranya melewati Kelurahan Burengan, Kelurahan Ngadirejo, hingga Kelurahan Dandangan.
Di luar perannya sebagai penyuplai pengairan dan pengendali banjir, Sungai Kresek juga terancam pencemaran. Limbah industri dan rumah tangga disinyalir jadi ancaman utama sungai ini.
Salah satunya seperti yang bisa dilihat di Jl. Imam Bonjol, Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kota. Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, di bawah jembatan yang melintang di atas sungai itu masih banyak ditemui sampah-sampah. Mayoritas merupakan sampah yang terbungkus kantong plastik beragam ukuran. Di sisi selatan jembatan, bahkan air yang mengalir nampak berwarna kehitaman. Selain itu, sedimen di badan sungai juga cukup tebal.
Padahal, aliran sungai itu punya sejarah krusial bagi peradaban Kota Kediri. Konon, anugerah tanah sima—sumber penentu hari jadi Kota Kediri yang merujuk Prasasti Kwak—diberikan di kawasan yang kini dikenal sebagai Kelurahan Ngadisimo itu.
Dari sana pula peradaban Kota Kediri dimulai, tepatnya di sekitar Sumber Kuwak atau Sumber Tirtayasa. Air dari sumber mengalir melewati sungai tersebut hingga secara alami memicu perkembangan manusia di sepanjang alirannya. “Ancaman Sungai Kresek sekarang itu paling banyak dari limbah industri dan rumah tangga,” ujar aktivis lingkungan Endang Pertiwi.
Pencemaran di sungai itu salah satunya juga dipicu karena alirannya yang melintasi lingkungan padat penduduk. “Dulu pernah aksi clean-up di sekitar Pasar Ngaglik, Ngadisimo, sana. Lagi bersih-bersih di sungai, dari pipa-pipa di atasnya itu mengalir air kotor. Langsung masuk sungai,” ujar perempuan yang juga ketua Yayasan Hijau Daun Mandiri itu menceritakan kondisi pencemaran Sungai Kresek dan anak sungainya yang mayoritas disumbang dari limbah domestik.
Jawa Pos Radar Kediri bersama Yayasan Hijau Daun Mandiri dan Forum Kali Brantas juga pernah melakukan pengujian kualitas air di anak Sungai Kresek pada 20 Juni 2024 lalu. Hasilnya, kadar fosfat jauh di atas baku mutu yang ditetapkan PP No.22/2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Untuk sungai kelas 2, baku mutu fosfat ditetapkan 0,2 miligram/liter.
Seperti di aliran anak Sungai Kresek di Kelurahan Tinalan, Kecamatan Pesantren. Kadar fosfat di sana mencapai 3,3 mg/l. Pengujian juga dilakukan di anak sungai yang berada di Jl. Tembus Kaliombo, Kelurahan Kaliombo, Kecamatan Kota. Di sana merupakan pertemuan tiga aliran anak sungai sebelum dibawa Sungai Kresek bermuara di Sungai Brantas.
Di sana, kadar fosfat lebih tinggi lagi. Yakni, mencapai 5,4 mg/l. Kadar fosfat yang tinggi juga mengindikasikan adanya polutan kimia dalam air. Zat kimia itu bisa berasal dari industri, rumah tangga seperti detergen, hingga residu pupuk kimia di sektor pertanian.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah