KEDIRI, JP Radar Kediri-Pertamina angkat suara terkait kabar terhentinya pengiriman air bersih untuk warga terdampak pencemaran minyak di Kelurahan Tempurejo, Pesantren. Mereka berdalih pengiriman air hanya terlambat. Selebihnya, dari total belasan kepala keluarga (KK) warga yang sebelumnya terdampak, kemarin tinggal menyisakan tiga sumur saja.
Seperti diberitakan, pengiriman air minum galon untuk 14 KK warga terdampak pencemaran SPBU Tempurejo terhenti sejak Jumat (19/7) lalu. Warga terdampak lantas mengadukan hal tersebut ke Kelurahan Tempurejo pada Selasa (23/7) lalu. Setelah pengaduan tersebut, pihak SPBU baru mengirim kembali air galon. Namun, hanya untuk tiga KK yang sumurnya masih terdampak pencemaran.
Section Head Communication and Relations Pertamina Patra Niaga Jatim Balinus Taufiq Kurniawan mengatakan, supply air memang mengalami keterlambatan. Namun, dia menegaskan tidak ada penghentian bantuan kompensasi kepada warga. “Santunan ke warga juga terus berjalan setiap bulan,” ujarnya.
Terkait kompensasi air, menurutnya sempat terjadi keterlambatan pengiriman dari PDAM selaku penyuplai air. “Mengenai air itu karena ada keterlambatan dari PDAM-nya. Di weekend itu kemarin nggak mau ngirim. Bukan karena dari kita yang tidak mengirim,” elaknya.
Lebih jauh, Taufiq juga menegaskan hasil pemulihan air sumur yang tinggal menyisakan tiga sumur terdampak. Penilaian itu berdasarkan hasil uji laboratorium yang sudah diterima pihaknya.
“Kalau warga masih merasa seperti itu, itu kan perasaan mereka. Buktinya ada atau tidak kan sesuai data. Data hasil labnya sudah ada di kita, yang menyatakan kalau konsentrasinya (total petroleum hydrocarbon, Red) sudah nol,” bebernya.
Terkait hasil laboratorium itu, tersisa tiga sumur yang masih mengandung minyak. Sebelumnya, total sumur yang tercemar mencapai 14 sumur. “Dari tiga ini tinggal satu yang berat (konsentrasi minyaknya, Red),” tandasnya.
Sebelumnya, Sulastri dan satu warga terdampak lainnya mendatangi Kelurahan Tempurejo pada Selasa pagi. Mereka mengeluhkan bantuan air minum yang dihentikan sejak Jumat (19/7) lalu. Akibatnya, Sulastri harus membeli air bersih untuk minum dan memasak. Dalam sehari dia harus membeli dua galon seharga Rp 10 ribu.
“Baru hari ini (Selasa 23/7, Red) dikasih lagi, tapi cuma untuk tiga rumah, punya Bu Semi, Pak Gio, sama Pak Heri,” jelasnya. Padahal, air sumur Sulastri juga masih mengeluarkan bau minyak. Bahkan, terakhir kali tim dari ITS Surabaya mengunjungi rumahnya awal Juli lalu, mereka membenarkan air sumurnya yang masih belum layak dikonsumsi.
“Di saya memang bening airnya. Tapi masih bau minyak,” keluhnya usai mewakili belasan KK terdampak minyak lainnya. Dia berharap warga bisa mendapat air bersih kembali hingga sumur normal.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri, Imam Muttakin, mengatakan, hasil pengujian laboratorium terhadap 14 sampel air sumur warga akan segera dipaparkan. Rencananya, sosialisasi kepada warga akan dilakukan Kamis ini (25/7) sembari menunggu jadwal dari tim ITS.
“Terkait keterlambatan air minum, sudah dikoordinasikan dengan SPBU untuk segera dipenuhi seperti biasa. Sampai disosialisasikan ke warga,” ujarnya.
Untuk diketahui, belasan KK warga RT 05/II Kelurahan Tempurejo, Pesantren pertama kali mengeluhkan air sumurnya berbau minyak pada 14 Agustus 2023 lalu. Belakangan diketahui air sumur warga tercemar Pertamax dari SPBU 5464135. Hal tersebut setelah dilakukan pressure test pada 30 September 2023. Dari sana diketahui adanya perubahan tekanan pada pipa pertamax yang menyambungkan tangki pendam dengan dispenser.
Sejak itu, pihak SPBU dan Pertamina berkomitmen memulihkan sumur warga dengan menggandeng peneliti dari ITS Surabaya. Serta, memberikan kompensasi berupa bantuan air bersih selama pemulihan berlangsung.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah