KEDIRI, JP Radar Kediri — Memasuki musim kemarau Mei ini, tren kasus demam berdarah dengue (DBD) mulai menurun. Meski demikian, masyarakat tidak boleh mengendurkan kewaspadaannya. Sebab, selama sekitar tiga minggu terakhir, ada 15 kasus baru di Kota Kediri.
Data yang dihimpun koran ini, sejak awal 2023 sedikitnya ada 145 kasus DBD yang tercatat di dinas kesehatan. Penyakit akibat virus yang ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes Aegypti ini meningkat seiring tingginya curah hujan.
“Trennya sekarang cenderung menurun,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri Muhammad Fajri Mubasysyir melalui Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Hendik Suprianto terkait jumlah kasus hingga 20 Mei lalu yang hanya 15 kasus itu.
Lebih jauh Hendik mengatakan, tren penurunan itu dilihat dari perbandingan kasus di tiap bulannya. Pada April lalu, total kasus DBD mencapai 50 kasus. Adapun sejak awal 2024, catatan kasus tertinggi terjadi pada Maret dan April dengan masing-masing 55 dan 50 kasus. “Prediksi kami mungkin sampai akhir bulan ini hanya ada 30-an kasus,” lanjutnya.
Klaim itu menyusul perubahan cuaca yang terjadi di Kota Kediri dan sekitarnya. Musim kemarau sudah mulai dirasakan dalam beberapa hari ini. Pun dengan curah hujan yang juga berkurang signifikan. “Sekarang sudah mulai panas dan nggak ada hujan. Sarang-sarang nyamuk kan lebih banyak terbentuk saat musim hujan,” terangnya.
Hal tersebut karena selama musim hujan kerap muncul genangan di lingkungan tempat tinggal warga. Biasanya terbentuk dalam barang bekas dan wadah terbuka yang tidak dikelola dengan baik. Alhasil, genangan air bisa menjadi sarang nyamuk berkembang biak.
“Selama masyarakatnya sendiri tidak membersihkan lingkungannya, nyamuk tetap akan ada,” tandasnya mengimbau agar masyarakat menerapkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) untuk menekan kasus DBD. Seperti menguras tempat penampungan air, menutup wadah penampungan air, dan mengubur barang bekas.
Meski kasusnya menurun, kemunculan kasus DBD tetap diwaspadai. Salah satunya dengan melakukan pengasapan atau fogging. Berbeda dengan PSN yang merupakan langkah pencegahan munculnya kasus, fogging hanya dilakukan di lingkungan tempat ditemukannya kasus.
Alasannya, pengasapan hanya bisa membunuh nyamuk-nyamuk besar yang disinyalir membawa virus dengue. Karenanya, Hendik mengimbau agar masyarakat lebih mengutamakan langkah pencegahan. Yakni dengan cara memberantas sarang nyamuk yang ada di lingkungan sekitarnya. “Fogging tetap kami laksanakan. Tapi semakin berkurang seiring penurunan kasus,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah