Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kena Dampak Proyek Tol Kediri-Tulungagung, Warga Mejenan di Mojoroto Kota Kediri Mulai Angkat Kaki

Ayu Ismawati • Selasa, 21 Mei 2024 | 17:18 WIB
TUNGGU ALAT BERAT: Warga mengambili bahan bangunan yang bisa dimanfaatkan di rumah terdampak Tol Ki Agung.
TUNGGU ALAT BERAT: Warga mengambili bahan bangunan yang bisa dimanfaatkan di rumah terdampak Tol Ki Agung.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Pengosongan lahan terdampak Tol Kediri-Tulungagung (Ki Agung) terus bergulir. Saat ini giliran warga di lingkungan Mejenan, Kelurahan/Kecamatan Mojoroto yang harus angkat kaki. Rumah dan bangunan yang terkena proyek strategis nasional itu ramai-ramai dirobohkan.

Untuk diketahui, sebanyak 150 bidang tanah di Kelurahan Mojoroto sudah mendapat surat perintah pengosongan sejak 24 April lalu. Untuk menunjang pembangunan Tol Ki Agung, warga terdampak diminta untuk segera mengosongkan lahannya.

“Kalau sudah termasuk yang kami surati kemarin (sejak 24 April, Red), maka deadline-nya tanggal 25 Mei,” ujar Ketua Tim Pengadaan Tanah (TPT) Jalan Tol Kediri-Tulungagung Linanda Krisni Susanti.

Setelah pembongkaran oleh warga terdampak itu, Nanda—sapaan akrabnya—mengatakan, tahap selanjutnya tinggal menunggu dimulainya pelaksanaan proyek oleh kontraktor jalan tol. Terkait waktunya, diperkirkan akhir Mei ini.

Di sisi lain, pembongkaran sejumlah bangunan di sana menjadi kesempatan warga untuk mencari keuntungan. Di antara bangunan yang tengah dirobohkan itu, beberapa warga nampak mengais sisa-sisa material.

Salah satunya Laksono. Pria asal Kelurahan Rejomulyo itu sudah beberapa hari ini mengumpulkan sisa-sisa material yang masih bisa dimanfaatkan. Menurutnya, pemilik rumah sudah meninggalkan bangunannya sejak lama. Kemudian, mereka menyerahkan urusan pembongkaran kepada pihak jalan tol. “Yang punya sudah beli rumah baru. Yang ini (bekas rumah, Red) nggak dibongkar sendiri karena malah rugi,” ujarnya.

Meski TPT memberi kesempatan warga untuk memanfaatkan lagi material bangunan, agaknya beberapa warga memilih meninggalkan rumahnya begitu saja. Hal tersebut karena biaya pembongkaran dianggap tak sebanding dengan hasil yang didapat. “Ini saja yang bisa diambil dan laku dijual cuma besi-besi saja. Lainnya nggak laku,” tandasnya.

Dengan mengumpulkan besi dari bangunan bekas itu, puluhan ribu bisa dikantongi dalam sehari. Bersama enam orang rekannya, keuntungan dari penjualan besi hasil berburu itu akan dibagi bersama-sama. “Biasanya sekilo mulai Rp 3.500 – 4.000. Satu orang biasanya bisa dapat Rp 60 ribu,” tuturnya. 

Hal serupa disampaikan Hasan, salah satu keluarga yang terdampak. Si pemilik rumah yang merupakan kakaknya sudah lebih dulu pindah dengan membiarkan bangunan rumahnya terbengkalai. “Kalau dibongkar sendiri biayanya besar. Katanya tanggal 25 sudah harus selesai pembongkaran,” tegasnya.

Sejak rumah dikosongkan oleh pemiliknya, menurut Hasan para pencari besi dari berbagai daerah sudah mulai berdatangan. Tak hanya besi, tapi juga material yang bisa dimanfaatkan lagi. Seperti kabel dan paving jalan.

“Besi beton yang paling banyak dicari. Tapi ngambilnya susah. Mungkin nanti waktu mulai dibongkar pakai bego (backhoe, Red) makin banyak orang ke sini,” sambung pria yang juga tengah mengais sisa-sisa besi dari dalam bangunan rumah.

Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, di lingkungan Mejenan, Mojoroto tersebut ada lebih dari delapan bangunan sudah mulai dibongkar. Bangunan tersebar mulai Jl Inspeksi Brantas ke arah barat hingga lingkungan Jl Kawi. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#kediri #TPT #kecamatan mojoroto #pengosongan lahan #tol kediri-tulungagung #proyek tol