Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Pemulihan Air Bersih yang Tercemar BBM di Tempurejo Kota Kediri Butuh Waktu Dua Bulan

Ayu Ismawati • Rabu, 15 Mei 2024 | 18:12 WIB

Photo
Photo

KOTA, JP Radar Kediri—Belasan kepala keluarga (KK) warga terdampak pencemaran air di Kelurahan Tempurejo, Pesantren agaknya masih harus bersabar. Sebab, sejak pemulihan air sumur dilakukan mulai November 2023 lalu, mayoritas sumur warga masih mengandung bensin. Sedangkan pemulihan tahap II yang dimulai awal Mei ini masih butuh waktu hingga dua bulan ke depan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri Imam Muttakin mengatakan, teknis pemulihan air tanah warga tahap II ini akan berbeda dari sebelumnya. Pada tahap I lalu, hanya lima sumur terbuka saja yang dipulihkan dengan cairan dispersant. “Di tahap kedua ini kami lebih menyeluruh ke 14 sumur itu kita lakukan pemulihan,” ujarnya.

Untuk diketahui, dua dari lima sumur terbuka milik warga yang dipulihkan sejak November 2023 lalu sudah dinyatakan bersih. Ini terlihat dari kadar total petroleum hydrocarbon (TPH) yang nol. Sedangkan tiga lainnya belum berhasil dipulihkan alias tetap mengandung zat minyak.

Baca Juga: Ronny Siswanto Gagal Maju Lewat Jalur Independen Pilwali Kota Kediri

Salah satunya di sumur milik Sugiyono. Dari pemeriksaan awal, kadar TPH-nya mencapai 180 ribu mg/liter. Kemudian, dalam pemeriksaan Februari lalu ternyata masih ada kadar minyak sebesar 126 miligram per liter.

“Untuk tahap II tidak terlalu lama (prosesnya, Red) karena tinggal sedikit itu. Tapi ya semoga memang betul. Tinggal dua sampai tiga kali pengambilan sampel lagi,” lanjut Imam memprediksi pemulihan tahap II membutuhkan waktu sekitar dua bulan.

Berdasar hitungannya, rata-rata pemberian dispersant dan pengambilan sampel berjarak sekitar dua minggu. Karena itu pula, dia memprediksi pemulihan tahap II akan lebih cepat dibanding tahap I.

Di sisi lain, sebanyak 16 KK warga terdampak berharap kompensasi terhadap mereka tetap berjalan. Yang paling krusial terkait kompensasi air bersih yang harus diberikan selama air tanah warga belum pulih sepenuhnya.

Baca Juga: Pladu di Akhir Mei Ini Dipastikan Tidak Menghambat Proyek Jembatan Jongbiru Kediri

Terkait hal itu, Imam memastikan kompensasi bagi warga akan tetap disalurkan. “Pada prinsipnya SPBU tetap berkomitmen dengan pernyataan di awal bahwa akan melakukan normalisasi sampai semuanya betul-betul aman dan air bisa dikonsumsi warga seperti biasa,” tandasnya.

Terpisah, Dosen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Ipung Fitri Purwanti mengatakan, pihaknya akan memulai kembali pemberian cairan dispersant ke sumur warga. Itu setelah pihaknya sudah selesai menguji sampel air dari 14 sumur warga yang diambil pada Senin (13/5) lalu.

“Kalau ternyata masih ada TPH, mungkin kami minta SPBU untuk membubuhi (ke sumur warga, Red). Karena ini tertutup, nanti akan diberikan ke yang dekat dengan pompanya itu. Jadi harus dibuka,” ujarnya terkait teknis pemulihan di sumur tertutup milik warga.

Baca Juga: Sudah 9 Bulan, Sumur Terdampak Pencemaran di Tempurejo Kota Kediri Tetap Bau Bensin

Lebih jauh Ipung membeberkan, tingkat keberhasilan pemulihan air tanah warga juga dipengaruhi oleh pola aliran air tanah. Pada praktiknya, beberapa aliran air sumur terbuka warga yang di-treatment tidak tersambung dengan sumur-sumur tertutup lainnya. Namun, melalui uji geolistrik yang sudah lebih dulu dilakukan, tim peneliti bisa melihat titik pencemaran dan arah aliran air.

“Cuma kami tidak bisa memastikan bahwa sumur ini nyambung ke yang sana atau yang ke sana atau tidak,” tandasnya. Dengan demikian, pemberian cairan dispersant di semua sumur warga sudah merupakan langkah yang tepat. Sebab, idealnya, untuk meremidiasi air tanah yang tercemar perlu dipasang barrier.

 “Seharusnya di-barrier dulu supaya tidak menyebar ke mana-mana baru dibubuhi. Tapi nggak bisa, gimana kita mau membarrier segini besarnya,” tegasnya. (ais/ut)

         

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #Dinas Lingkungah Hidup #Terdampak #air bersih #jawa pos #pencemaran air