KEDIRI, JP Radar Kediri - Langkah pengusaha Deny Widyanarko mencari kendaraan untuk maju ke perebutan kursi AG-1 Kabupaten Kediri semakin kencang.
Setelah mendaftarkan diri sebagai bakal calon bupati (bacabup) dari Partai Nasdem, Sabtu (11/5) kemarin giliran Partai Demokrat yang disasar. Deny mengembalikan formulir pendaftaran yang telah dia ambil beberapa waktu lalu.
“Hari ini saya menyerahkan berkas, seperti halnya saya sudah mengambil satu minggu lalu (3/5, Red),” ucap Deny di kantor DPC Partai Demokrat yang berada di Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo.
Owner Tajimas Group tersebut mendatangi kantor DPC Partai Demokrat sekitar pukul 10.00. Datang dengan menumpang mobil Mercedes Benz warna hitam, dia disambut hangat oleh Ketua DPC Partai Demokrat M. Zaini.
Deny menjelaskan, pengembalian formulir atau pendaftaran itu dalam rangka komitmennya untuk maju di pilkada. Dia pun berharap Partai Demokrat menerima pendaftarannya dan merekomendasikan Deny sebagai bacabup.
“Saya berharap untuk Partai Demokrat bisa menerima dan mem-follow up ini sehingga menjadi modal bagi saya untuk lebih yakin dan berjuang menata Kediri yang lebih baik,” harapnya.
Kenapa memilih Partai Demokrat? Deny mengaku karena Demokrat memiliki visi misi yang sama dengan dirinya. Yakni sama-sama menjunjung tinggi marwah demokrasi. Sehingga dengan mendaftar di partai ini, dia bisa menmyatukan visi dan misi.
“Saya yakin Demokrat pasti menjunjung tinggi marwah dan asas-asas demokrasi. Saya yakin Demokrat akan memperjuangkan bagaimana demokrasi di Kediri juga sehingga menghasilkan pemimpin yang baik dan akan menjadikan Kediri hebat,” ucapnya.
Selain di Demokrat, Deny sebelumnya juga sudah melakukan pendaftaran di Partai Nasdem.
Ditanyai terkait sudah berkomunikasi dengan partai mana lagi, Deny masih enggan membeberkan. Dia hanya mengatakan masih berpeluang untuk melakukan komunikasi dengan partai mana pun.
Adakah rencana maju sebagai calon independen? Deny enggan membahasnya. Dia hanya mengatakan bahwa akan mengusahakan berkomunikasi dengan parpol-parpol lebih dahulu.
“Kami ada namanya instrumen parpol. Saya yakin parpol di Kediri masih mempunyai bentuk integritas untuk menjaga marwah demokrasi,” terangnya.
Deny juga mengklaim sudah mendapatkan dukungan dari kiai-kiai maupun tokoh agama. Dia menyebut bahwa sebelumnya sudah mengunjungi Ponpes Al-Falah Ploso untuk meminta dukungan.
“Banyak sekali yang sudah memberikan dukungan kepada saya, baik itu kiai-kiai NU di desa, pemuda-pemuda juga banyak,” suluknya.
“Kemarin saya juga silaturahmi kepada kiai Pondok Ploso dan Gus Kautsar. Alhamdulillah beliau juga memberikan dukungan pada saya. Itu menambah keyakinan saya, memberi semangat saya untuk berdiri melangkah berjuang itu juga atas restu dari kiai,” imbuhnya.
Sementara itu, Zaini menyebut bahwa situasi politik ini masih sangat dinamis. Sehingga, dia juga belum bisa memastikan apakah rekomendasi partainya akan diberikan ke Deny atau yang lain.
Apalagi, pilkada kali berbarengan, antara kabupaten dengan provinsi. Sehingga komunikasi antara DPC dengan DPD dan DPP tidaklah sederhana. Perlu melakukan beberapa pemetaan.
“Harus memetakan posisi kepentingan pilkada daerah dan provinsi,” kilahnya.
Walau demikian, karena Deny merupakan yang pertama kali melakukan proses pendaftaran, maka berkas-berkasnya akan diprioritaskan untuk diajukan lebih dahulu.
“Yang pertama Pak Deny, sehingga kami menghargai hal-hal yang pertama. Dengan demikian, kami akan mengawali dan mendahulukan proses untuk komunikasi ke DPD,” jelasnya.
Terkait akan berkoalisi dengan partai mana, dia masih enggan untuk membeberkannya. Walau demikian, Zaini mengaku bahwa pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan berbagai parpol.
“Kalau soal itu dinamis. Namun kami sudah berkomunikasi dengan berbagai partai. ada yang intens yang cukup meyakinkan untuk kami melakukan langkah lebih,” jelasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah