KEDIRI, JP Radar Kediri — Sepekan setelah libur Idul Fitri, penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan demam berdarah dengue (DBD) merebak di Kediri Raya. Bahkan, di Kabupaten Kediri ada tiga orang yang meninggal akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tersebut.
Data yang dihimpun koran ini menyebutkan, kasus DBD di Kabupaten Kediri hingga pertengahan April ini mencapai 187 orang. Rinciannya, 42 kasus ditemukan Januari lalu. Kemudian, Februari dan Maret masing-masing 64 dan 60 kasus. Sedangkan April ini ditemukan 19 kasus.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Kediri, dr Bambang Triyono Putro mengatakan, DBD paling banyak ditemukan Februari lalu. Selebihnya tren mulai turun. “Rata hampir di semua daerah paling banyak memang bulan Februari,” kata Bambang sembari menyebut Februari lalu curah hujan juga sangat tinggi.
Jika sebelumnya ada dua pasien DBD yang meninggal, Bambang mengakui ada penambahan satu pasien lagi. Bayi 11 bulan di wilayah Puskesmas Sidorejo, Pare tidak bisa bertahan setelah dirawat akibat DBD.
Banyaknya jumlah korban DBD yang meninggal hingga pertengahan April ini, diakui Bambang relatif meningkat dibanding tahun lalu. Sebab, pada 2023 lalu total hanya ada tiga pasien yang meninggal akibat virus dari gigitan nyamuk itu. Adapun tahun ini sudah ada tiga korban di empat bulan pertama. “Kalau dari sisi jumlah kasus tidak ada kenaikan signifikan,” lanjutnya sembari menyebut penyakit DBD merata di semua kecamatan.
Kasus paling tinggi ditemukan di Kecamatan Pare dan Ngasem. Sedangkan yang paling rendah di Kecamatan Tarokan dan Semen. “Kami gerakkan kader jumantik di semua daerah. Keaktifan kader turut menekan jumlah kasus,” tandas Bambang.
Untuk diketahui, selain kasus DBD, ISPA juga merebak di Kediri Raya. Di Kota Kediri, sejumlah fasilitas kesehatan dibanjiri pasien. Salah satunya terlihat di Puskesmas Kota Wilayah Selatan. Kunjungan puskesmas di Kelurahan Ngronggo, Kecamatan Kota itu mencapai ratusan.
Kepala Puskesmas Kota Wilayah Selatan drg Tri Agustin Retnoningtiyas mengatakan, peningkatan kunjungan di puskesmas mulai terjadi sejak Selasa (16/4) lalu. Yakni hari pertama layanan kesehatan itu beroperasi normal pasca-libur dan cuti lebaran.
“Seperti hari ini (kemarin, Red) sampai pukul 11.00 kunjungan sudah mencapai 118 orang,” ujarnya sembari menyebut peningkatan di dua hari awal itu sekitar 20 persen.
Tingginya pengunjung puskesmas itu salah satunya disumbang oleh pasien rujukan. Perempuan yang akrab disapa Agustin itu menuturkan, layanan itu sempat ditutup selama libur lebaran. Sebab, pelayanan puskesmas selama libur dan cuti hanya diperuntukan bagi pasien gawat darurat.
“Karena pasien menumpuk (selama libur lebaran, Red). Paling banyak minta rujukan, seperti sakit jantung,” sambung Agustin. Selebihnya, sakit seperti demam, batuk, dan pilek masih mendominasi kunjungan masyarakat. Khususnya yang diderita oleh pasien anak-anak.
Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Kediri Hendik Suprianto mengatakan, selama libur dan cuti Lebaran, diare dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) termasuk penyakit yang sering muncul. “Siklusnya dari tahun ke tahun sudah seperti itu. Kalau ISPA biasanya sudah parah baru dibawa ke layanan kesehatan,” ujarnya.
Meski begitu, menurutnya kedua penyakit itu cenderung memiliki fatalitas yang rendah. Berbeda dengan demam berdarah dengue (DBD) yang masih diwaspadai.
Data yang dihimpun koran ini, sejak Januari hingga pertengahan April ini, kasus DBD di Kota Kediri mencapai 96 kasus. Puncaknya terjadi pada Maret lalu dengan total 55 kasus. “Selama Hari Raya Idul Fitri ada tambahan 13 kasus,” jelas Hendik.
Meski demikian, menurut Hendik hingga pertengahan bulan ini kasus DBD mengalami tren penurunan. “Berdasarkan tren kasus yang muncul, biasanya kasus naik saat mendung dan musim hujan. Karena sering kali banyak air yang tergenang di lingkungan tempat tinggal. Sehingga menjadi sarang nyamuk berkembangbiak,” urainya.
Untuk diketahui, selain di sejumlah puskesmas, Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Gambiran juga dibanjiri pasien. Pada hari pertama hingga hari ketiga lebaran saja, total ada 200 pasien yang berobat. Keluhan pasien mayoritas ISPA dan muntah-muntah. “Memang di IGD ramai, outflow pasien bisa sampai 30, 40, atau 50 dalam satu sif,” kata dr Lintang Jatu sembari menyebut kasus DBD juga banyak ditemukan April ini.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah