Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Merasakan Sensasi Penerbangan Perdana ke Bandara Dhoho Kediri: Tepuk Tangan Membahana kala Landing-nya Mulus

Redaksi Radar Kediri • Sabtu, 6 April 2024 | 18:12 WIB
SIAP TERBANG: Suasana di kabin pesawat Citilink sebelum take off menuju Bandara Dhoho Kediri, Jumat (5/4).
SIAP TERBANG: Suasana di kabin pesawat Citilink sebelum take off menuju Bandara Dhoho Kediri, Jumat (5/4).

JP Radar Kediri - Jawa Pos Radar Kediri menjadi saksi sejarah penerbangan perdana yang mendarat di Bandara Dhoho Kediri.

Menjadi satu-satunya perwakilan media dalam inaugural flight itu, wartawan Jawa Pos Radar Kediri Sri Utami akan menuliskan pengalamannya dalam beberapa tulisan mulai hari ini.

Tepuk tangan penumpang membahana di dalam kabin pesawat Airbus 320 Citilink, begitu roda pesawat menyentuh landasan pacu atau runway bandara tepat pukul 09.40, Jumat (15/4).

Senyum mengembang di bibir ratusan orang yang menjadi saksi penerbangan pesawat perdana atau inaugural flight di Bandara Dhoho itu.

Sebanyak 175 orang yang mengikuti penerbangan kemarin memang patut bangga.

Mereka tidak hanya nganyari bandara yang pembangunannya menelan dana belasan triliun rupiah itu. Namun, sekaligus juga menjadi penumpang perdana di bandara yang ke depan diprediksi akan berkembang pesat.

Saya termasuk di antara ratusan penumpang itu. Bagaimana perasaan saya? tentu saja ikut bangga. Rencana pembangunan bandara ini sudah mengemuka sejak 2009 silam di Pemkab Kediri.

Namun, saya tidak pernah menyangka jika proyek yang dulu diragukan banyak orang itu akan terwujud 15 tahun kemudian. Pelaksananya swasta pula.

Maka, seperti ratusan penumpang yang memilih langsung bersiap setelah makan sahur agar bisa mengejar jadwal check in di bandara, saya juga melakukannya. Semula saya berencana meninggalkan Hotel Orchardz, tempat saya menginap, sekitar pukul 06.00.

Waktu tempuh sekitar 15 menit ke bandara, sebenarnya memang lebih dari cukup untuk memproses check in, boarding, dan lainnya. Namun, saya memutuskan untuk berangkat satu jam lebih awal.

Tepat pukul 05.00, saya berangkat ke bandara dengan menumpang fasilitas shuttle bus dari hotel. Otomatis saya harus langsung bersiap setelah selesai makan sahur.

Hal pertama memang jarang sekali berjalan mulus. Pasti ada kagok-kagoknya. Ini terjadi mulai tahap check in di Bandara International Soekarno-Hatta.

Idealnya penumpang bisa langsung check in online di sejumlah mesin yang disiapkan di bandara. Namun, beberapa kali saya masukkan kode booking, yang tertera justru tulisan “Penerbangan internasional silakan check in di counter”.

Saya sempat bingung, nyata-nyata penerbangan ke Bandara Dhoho ini termasuk penerbangan domestik. Kenapa yang tertera di layar justru keterangan penerbangan internasional? Ternyata, karena penerbangan ke Kediri kemarin merupakan penerbangan perdana, datanya belum diinput ke dalam sistem.

Sehingga, kami harus check in manual di counter. Untungnya ada beberapa pegawai Citilink yang langsung menghampiri dan meminta data untuk dilakukan check in manual.

Hal serupa juga dialami Sekretaris Daerah (Sekda) M. Solikin, Ketua DPRD Dodi Purwanto, Ketua DPC Partai Nasional Demokrat Lutfi Mahmudiono, Ketua DPC Demokrat M. Zaini, dan Mundhofir, anggota DPRD Kabupaten Kediri yang ikut dalam rombongan. Mereka juga dibantu petugas melakukan check in manual sebelum melanjutkan boarding.

Jika di tahap check in sempat terkendala, tahap lainnya berjalan mulus. Kami menunggu boarding di gate 15. Direktur Utama Citilink Dewa Kadek Rai dan jajarannya langsung menyambut para penumpang. Ruang tunggu gate 15 pun tak ubahnya tempat reuni warga Kediri di Jakarta. Para penumpang saling berbagi cerita tentang kampung halaman masing-masing yang akan dikunjungi.

Semuanya antusias menyambut penerbangan perdana ini. Sebab, jika biasanya mereka harus harus menempuh perjalanan minimal selama dua jam setelah landing dari pesawat, mulai kemarin mereka bisa langsung mendarat di Kediri. Kampung halamannya.

Makanya, begitu pengeras suara mengumumkan proses boarding, ratusan calon penumpang itu langsung menyemut di depan gate. Penerbangan selama satu jam, empat puluh menit itu berlangsung sangat tenang.

Sekitar 15 menit mengudara, nyaris tidak ada suara di dalam kabin. Kecuali suara dari pramugari dan pramugara yang menawarkan minuman air mineral kepada penumpang atau menawarkan produk lainnya. Selebihnya, hampir seluruh penumpang tertidur.

Ini bisa dimaklumi karena mereka pasti tidak memiliki waktu istirahat yang cukup demi mengejar waktu check in di bandara. Hanya beberapa orang saja yang terlihat sibuk dengan ponsel mereka.

“Keheningan” baru pecah sekitar pukul 09.20. Saat itu, Kapten Pilot Ilham Tri Putra mengumumkan jika pesawat yang semula berada di ketinggian 35 ribu kaki itu tengah berada di atas Blora, Jawa Tengah. Sekitar 120 kilometer dari Kediri.

Pesawat Airbus 320 itu bersiap memulai tahapan pendaratan di Bandara Dhoho dengan mengurangi ketinggian secara bertahap. Beberapa saat kemudian, pemandangan di bawah yang semula tertutup awan, mulai terlihat rumah-rumah penduduk hingga area persawahan dan hutan.

Sepuluh menit jelang pendaratan atau sekitar pukul 09.30, pesawat sudah berada di ruang udara Kediri. Interchange Tol Begadung, Nganjuk terlihat jelas dari ketinggian. Demikian pula beberapa bangunan besar yang ada di Kediri.
Pesawat terlihat memutar di ruang udara Kediri sebanyak dua kali. Hanya sekitar lima menit. Jauh lebih singkat dibanding pendaratan di bandara yang traffic-nya sudah padat.

Lalu, mengapa tetap harus memutar di atas Kediri padahal Citilink merupakan pesawat komersil perdana yang mendarat di Bandara Dhoho? Ternyata, di udara pun tak ubahnya jalan di darat. Menurut Dirut Citilink Dewa Kadek Rai, pilot perlu melakukan orientasi untuk memilih jalur yang paling nyaman untuk dilewati di penerbangan selanjutnya.

Setelah dua kali pesawat memutari ruang udara Kediri, secara perlahan pesawat landing di Bandara Dhoho. Apa bedanya dengan landing di Bandara Juanda, Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Chek Lap Kok Hongkong, atau bahkan Bandara King Abdul Aziz di Jeddah, Arab Saudi? Landasan pacu atau runway Bandara Dhoho jauh lebih mulus!

Begitu roda pesawat menyentuh runway, guncangan hanya muncul beberapa detik saat pesawat mencari keseimbangan setelah mendarat. Selebihnya, saat pesawat melakukan taxiing atau berjalan di darat terasa sangat mulus. Tidak ada guncangan akibat kondisi jalan di runway seperti yang dirasakan saat pesawat bersiap take off dan selesai landing di Bandara Juanda dan Bandara Soekarno-Hatta.

Jika penilaian bandara hanya dilihat dari kondisi runway-nya, saya rasa runway Bandara Dhoho yang terbaik. Semoga mulusnya penerbangan perdana kemarin menjadi sinyal positif akan perkembangan bandara ke depan. Bandara yang juga menjadi sister airport dari Juanda ini bisa benar-benar diminati masyarakat dan berkembang pesat. Dampak besar yang diharapkan tentu saja multiplier effect-nya bagi perekonomian di Kediri Raya.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#kediri #bandara dhoho kediri #bandara kediri #gudang garam #bandara