KEDIRI, JP Radar Kediri - Animo warga menggunakan kereta api (KA) untuk perjalanan mudik Lebaran sangat tinggi. Meskipun masih kurang satu bulan lebih, tiket KA lebaran yang terjual sudah ribuan lembar. Khususnya untuk periode 4 hingga 14 April.
Meskipun sudah dipesan, harga tiket berlaku dinamis. Bisa berubah sewaktu-waktu sesuai kelas, rute, dan waktu keberangkatan. Tentu saja harga mengacu pada ketentuan yang sudah ditetapkan.
“Yang membedakan itu tingkatnya. Ada yang tingkat rendah ada yang tingkat tinggi,” jelas Kepala Stasiun Kediri Daniel Yuniarta, ketika dikonfirmasi kemarin.
Berdasarkan data yang ada, tiket keberangkatan dari Kediri sudah terjual 3.832 lembar. Rinciannya, kelas eksekutif terjual 742 tiket dan kelas ekonomi 3.090 lembar. Sejauh ini tiket yang paling banyak dipesan adalah KA Kahuripan dengan tujuan Kiaracondong Bandung dan KA Malabar dengan tujuan Bandung.
Melihat perkembangan ini, Daniel mengingatkan potensi membeludaknya penumpang KA saat Lebaran. Setidaknya bila dibandingkan tahun sebelumnya. Karena itu pihak KA telah menyiapkan kereta tambahan khusus untuk angkutan Lebaran.
“Tahun kemarin kan masih Pandemi jadi masih ada prokes (protokol kesehatan, Red). Sekarang sudah enggak, jadi ya tahun ini lebih banyak,” ungkapnya.
Meskipun nantinya penumpang kereta api membeludak, pihaknya tetap menjual tiket kereta sesuai dengan jumlah yang sudah ditentukan. “Tetap sesuai manifest, ngga bisa penumpangnya berdiri yang jarak jauh,” jelasnya.
Tiket Lebaran sendiri sudah mulai dibuka sejak 15 Februari lalu. Yaitu untuk pemesanan mulai 31 Maret ke atas. Pemesanan dengan cara online melalui aplikasi Access by KAI, aplikasi online maupun mitra resmi penjualan lainnya yang bekerja sama dengan KAI. Loket di stasiun hanya melayani penjualan tiket go show, mulai dari 3 (tiga) jam sebelum keberangkatan kereta.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah