KEDIRI, JP Radar Kediri - Panen raya padi memang baru akan terjadi Maret nanti. Namun, Februari ini sudah ada ribuan hektare tanaman yang dipanen awal. Faktanya, produksi padi sekitar 10 ribu ton itu belum bisa meredam harga beras yang hingga kemarin masih selangit.
Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri Anang Widodo melalui Kabid Pengelolaan Pangan Rini Pudyastuti mengungkapkan, di Februari ini sedikitnya ada 1.924 hektare tanaman padi yang dipanen. Jika rata-rata satu hektare menghasilkan 3,6 ton beras, berarti produksi beras Februari ini minimal sebesar 10.526 ton.
Rini mengakui, produksi lebih dari 10 ribu ton itu belum bisa meredam kenaikan harga beras. Hingga kemarin, beras premium masih mencapai Rp 16 ribu. Sedangkan kualitas medium berkisar 14 ribu hingga Rp 15 ribu per kilogram. “Memang belum banyak (tanaman padi, Red) yang dipanen,” aku Rini.
Lebih jauh Rini menjelaskan, faktor cuaca dan kemarau panjang membuat periode penanaman padi petani tahun ini mundur. Ribuan hektare padi yang dipanen Februari ini menurutnya berasal dari Kecamatan Papar sebesar 415,2 hektare. Disusul kemudian Kayenkidul seluas 304 hektare. Sisanya, tersebar di beberapa wilayah.
Adapun untuk Maret nanti panen akan serentak terjadi di 25 kecamatan di Kabupaten Kediri. Hanya di Kecamatan Ngadiluwih saja yang tidak ada panenan padi. Bagaimana dengan puluhan kecamatan lainnya? Menurut Rini panenan paling banyak di Kecamatan Plemahan sebesar 1.800 hektare. Kemudian, Papar 1.300 hektare, dan 600 hektare di Banyakan. “Ada sekitar 12 ribu tanaman padi yang akan dipanen Maret nanti,” terang Rini sembari menyebut Kabupaten Kediri akan menghasilkan beras 42.637 ton.
Dengan banyaknya panenan, Rini optimistis harga beras nasional bulan depan turun. Meski ada penurunan, Rini mengakui jika harga pasaran akan sulit kembali ke harga semula. Hal itu terdampak dari mahalnya harga pupuk dan upah buruh. “Biarkan harga pasar yang menyeimbangkan,” tandasnya.
Terpisah, Kabid Ketersediaan, Distribusi, dan Kerawanan Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Kediri Arba’i menuturkan, mahalnya harga beras karena terjadi kerawanan pangan. Yakni, stok yang tidak bisa mencukupi kebutuhan masyarakat.
Meski harga beras mahal, Arba’i memastikan stok di bulog aman. “Di bulog stoknya 30 ribu. Aman untuk dua bulan ke depan,” terangnya sembari menyebut DKPP fokus mencegah lonjakan harga beras lebih tinggi lagi.
Salah satu caranya dengan melakukan operasi pasar bersama tim pengendali inflasi daerah (TPID). Salah satu lokasi pasar murah digelar di Desa Purwodadi, Kras. Ratusan orang antre untuk bisa membeli dua kemasan beras sebesar 10 kilogram. Khusus untuk pemilik warung makan diperbolehkan mengambil hingga lima kemasan seberat 25 kilogram.
Selain di Purwodari, menurut Arba’i acara serupa akan digelar di total 22 titik lainnya. Acara dimulai kemarin hingga 3 April nanti. “Tujuannya untuk stabilitasi harga,” paparnya terkait program menyambut Ramadan dan Idul Fitri tersebut.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah