KEDIRI, JP Radar Kediri - Tidak hanya siswa kurang mampu saja yang mendapat perhatian dari Bupati Hanindhito Himawan Pramana. Melainkan, para guru dari pendidikan formal dan non-formal juga tak luput.
Mas Dhito mengatakan, dari total sekitar 15 ribu guru ngaji yang terdata di Pemkab Kediri, saat ini baru sekitar 8.400 guru ngaji saja yang sudah menerima bisyaroh. Nilainya Rp 100 ribu per bulan atau Rp 1,2 juta per tahun. “Dicairkan tiap tiga bulan, langsung masuk ke rekening guru ngaji,” kata Mas Dhito.
Jika hingga awal tahun ini separo lebih guru ngaji yang menerima bisyaroh, menurut Mas Dhito saat ini pemkab tengah mengkaji untuk bisa menaikkan jumlah penerima.
“Saat saya menginap di Kras, banyak guru ngaji yang curhat, mereka tidak bisa menerima bisyaroh karena tempat mengaji mereka tidak punya badan hukum,” jelas putra sulung Menteri Sekretaris Kabinet (Menseskab) Pramono Anung Wibowo tersebut.
Keberadaan orang-orang yang tulus mengabdikan diri dalam membangun akhlak generasi muda Kabupaten Kediri itu tetap diperhatikan. Termasuk merumuskan cara agar para guru di lembaga yang tidak berbadan hukum itu bisa menerima bantuan hibah. “Mereka berhak dibantu, kami sedang mencari caranya bagaimana,” jelas Mas Dhito.
Berapa jumlah guru tambahan yang akan menerima bisyaroh? Mas Dhito belum bisa menyebut secara pasti. Pemkab menurutnya masih melakukan hitungan secara rinci. Jumlahnya berkisar menjadi 9.000 orang atau naik sekitar 500 orang tahun ini.
“Jangan sampai belanja operasional membengkak dan belanja modal sedikit, nanti kita tidak bisa maksimal membangun daerah,” tandasnya sembari menyebut pemkab juga sudah memberikan insentif kepada 2.157 guru PAUD di Kabupaten Kediri. Masing-masing menerima Rp 150 ribu per bulan, tahun ini.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah